Sabtu, 20 Oktober 2018

Wisata Kuliner dan Masjid Kuno Xian

 
Sebagai anak yang bahagia tiap menemukan makanan enak, saya selalu berusaha mencicipi makanan lokal di tempat baru. Biasanya, saya agak kerepotan mencari makanan halal di daerah yang jarang penduduk muslimnya. Untung, saat di Xian ada sebuah jalan bernama moslem street. 
Awalnya, saya dan Weldy datang ke tempat ini untuk mencari sarapan. Berhubung ada masjid di kawasan ini, kami memutuskan untuk tinggal hingga waktu duhur tiba. Moslem street itu jalan paving block panjang dengan jajaran restoran dan kios penjual makanan. Saya langsung bahagia melihat banyak sekali pilihan makanan. Satu per satu kios mulai menggelar dagangannya sekitar jam delapan pagi.


Berhubung semua menu ditulis dalam huruf Cina, kami asal tunjuk makanan yang kira-kira menarik. Karena semua restoran di sini memasang logo halal, kami anggap semuanya halal. Yang pertama, kami mencicipi semangkok sup sayuran mirip cap-cay. Harganya hanya 7 yuan (1Y = 2K). Pedagangnya memberikan sambal dari cabai kering. Sambal jenis tadi juga saya temui tiap makan mie hingga kue kering. Pedasnya membuat lidah kebas. Saya baru tahu kalau efek pedas tadi muncul gara-gara sinchua peper. Sejenis rempah-rempah lokal yang di Indonesia dikenal dengan nama andaliman. 


Berhubung banyak sekali penjual makanan di sini, saya lapar mata. Belum ada lima menit, saya memesan sebuah gurita bakar dengan harga 20 yuan gara-gara ukuran jumbonya menggoda. Sayangnya, saya hanya bisa menghabiskan beberapa gigitan karena kepedasan! Gurita ini penuh dengan sinchua peper dan cabai kering. Saya tidak makan siang karena kebanyakan ngemil. Mulai dari semacam burger berisi daging kambing panggang yang enak hanya dengan harga 15 yuan. Masih ditambah beli roti raksasa, buah, dan kue-kue. Saya tahu, saya rakus :D
 

Selain makanan, moslem street penuh dengan penjual souvenir. Mulai dari maian mirip wayang dari kulit hewan, miniatur patung terakota, seruling dari tanah liat, hiasan dinding, dan banyak lagi. Pokoknya bikin mupeng. Saya baru sadar kalau penjual di sini menawarkan dagangannya dua sampai empat kali lipat harga asli. Saya beberapa kali membayar lebih mahal karena tidak terbiasa menawar. Hiks! Susah sekali menahan diri untuk tidak membeli barang di sini. Entah kenapa sarung bantal, kelinting angin, sampai lukisan yang ada di sini terlihat menarik untuk dibeli. 
 

Tidak jauh dari jalan ini, ada Masjid Besar Xian. Masjid ini dibangun pada tahun 742 M di tengah perkampungan muslim yang disebut dengan nama Bei Yuan Men.  Di Xian penduduk muslim hanya 1% dari populasi. Tapi sepertinya semua menumpuk di satu tempat ini. Penduduk yang saya lihat kalau perempuan mengenakan penutup kepala dan laki-laki memakai benda mirip kopyah. Masjid ini menjadi tempat wisata. Tiap pengunjung ditarik biaya 25 Yuan untuk masuk. Berhubung penjaganya tahu kami datang untuk bersembahyang akhirnya bisa masuk gratis. Masjid ini sedang direnovasi. Umurnya terlihat dari cat yang mengelupas dan batu-batu kusam. Bangunannya lebih mirip istana ala China. Pengaruh Islam terlihat dari pahatan-pahatan huruf arab di beberapa struktur bangunan. Yang paling indah adalah pahatan Al-Quran di kayu dinding dalam masjid. 33 juz terpahat rapi. 
 

Saya solat dua kali di sini. Yang pertama solat duha di masjid. Yang kedua, waktu saya mau wudhu untuk sholat duhur, saya baru tahu kalau tempat wudhu di masjid hanya untuk laki-laki. Beberapa orang menunjukkan mushola khusus perempuan yang letaknya di tengah perkampungan. Jamaah mandi terlebih dahulu sebelum sembahyang. Hanya ada perempuan dengan usia di atas 50 tahun yang sembahyang di sini. Sayangnya, saya tidak bertemu dengan orang yang bisa berbahasa Inggris di sini. Saya ingin banyak ngobrol dan tahu tentang sejak kapan ada muslim di sini. Dan adakah tradisi Islam yang mereka bawa?
 

11 komentar :

  1. wah menarik juga sih kalau nanti mau mengulik budaya Islam di negara Islam minoritas.

    BalasHapus
  2. Ketika menemukan tempat ibadah di Negara lain, memang lebih seringnya wisatawan sekalian menunggu waktu salat. Sebuah momen yang langka dan jarang dialami, khususnya di tempat minoritas :-)

    BalasHapus
  3. Apa karena jarang jamaah perempuan makanya tempat wudhunya ada di tengah perkampungan, ya Mbak?

    BalasHapus
  4. Di China mencari makanan halal emang pr banget, ya Mbak. Nah kalau ketemu Masjid seperti di Xian ini, kawasan sekitar pasti banyak makanan halalnya...

    BalasHapus
  5. mbak kalau disana bahasanya china ya?

    BalasHapus
  6. Jika kakak tidak menemukan orang yang bisa berbicara b inggris, terus bagaimana kakak berinteraksi dengan orang disana?

    BalasHapus
  7. mencari makanan halal di negeri orang yang mayoritasnya non muslim itu,seperti mencari orang di keramaian pasar. tapi kak ada 1 pertanyaan dari saya apakah saking jarannya,ada peremluan muslim di sana sampai berwudhu pun hari ke tengah permukiman dan apa di sana tidak ada anak remaja muslimah?

    BalasHapus
  8. Menurut kakak cara beribadahnya bagusan di china atau di indonesia?

    BalasHapus
  9. atap masjidnya unik mbak... biru keren xixixixi #jejakbiru pengin kesana juga, eh btw itu kerupuk gede amat, mirip piring hahahaha

    BalasHapus