Selasa, 10 April 2018

Kenali Nusantara bersama Skyscanner


Waktu membereskan folder berisi foto-foto perjalanan, saya kerap tidak percaya bisa mengunjungi tempat-tempat yang begitu beragam. Jaman SD dulu, saya sering membayangkan pergi ke berbagai penjuru Indonesia gara-gara buku-buku yang saya baca. Datang ke tempat-tempat tersebut, sepertinya hanya mimpi karena keluarga saya jarang bepergian. Kami hanya berkunjung ke tempat kerabat yang lokasinya terbatas. 

Satu per satu propinsi di Indonesia bisa saya sambangi setelah bekerja. Kebanyakan tugas di luar kota tersebut saya lanjutkan dengan liburan pendek. Datang langsung ke sebuah tempat baru ternyata menimbulkan sensasi menyenangkan. Serunya mencoba pengalaman baru membuat saya kerap mengiyakan suatu tawaran tanpa pikir panjang. Apalagi ke tempat-tempat dengan tiket pesawat mahal seperti Papua.

Saya pernah mendapat tawaran untuk membuat film dokumenter dan harus terbang dua hari kemudian ke empat kabupaten di Papua dan Papua Barat. Idealnya, membuat film itu butuh persiapan matang. Saya harus tahu isu apa akan saya rekam dan perlu mengenali narasumbernya. Persiapan dua hari akan mempersulit pengambilan gambar di lapangan dan waktu editing. Tapi, jika saya bilang tidak, kapan lagi bisa dibayar untuk jalan-jalan ke tempat-tempat itu?


Saya sama sekali tidak menyesal melakukannya. Di sana saya terkagum-kagum melihat pantai-pantai yang masih alami atau pergi ke hutan hujan tropis. Saya heran melihat di mana-mana orang makan pinang. Banyak yang meludah dan menimbulkan bercak warna merah di jalan, lantai dan dinding. Sampai bandara dan tempat umum yang saya temui memasang rambu larangan makan pinang. Bukan dilarang merokok seperti di lokasi lain di Indonesia.

Di pulau ini, saya tergoda makan durian untuk pertama kalinya. Sebelumnya saya tidak pernah mencobanya karena pusing setiap mencium bau durian. Waktu itu di Manokawari sedang panen raya durian. Di sepanjang jalan, saya kerap menjumpai tumpukan kulit durian. Orang menikmati durian seperti makan cemilan. Beberapa penduduk lokal yang saya kenal selalu bilang kalau durian Manokwari lebih enak daripada di tempat lain. Mereka bilang saya akan menyesal kalau tidak mencoba. Gara-gara penasaran akhirnya saya mencicipinya. Supaya baunya tidak menempel di tangan, saya menggunakan sendok. Beberapa waktu kemudian, saya datang ke Kalimantan Selatan dan Bali pada waktu panen durian. Pelan-pelan saya menyukai rasanya dan tidak peduli lagi dengan bau durian. 


Salah satu cara menikmati perjalanan adalah dengan pergi sendiri tanpa rencana. Kadang saya baru membeli tiket pulang saat sudah bosan atau kehabisan uang saku. Hal tersebut bisa membuat saya mengubah tujuan perjalanan dengan bebas. Seperti waktu berlibur di Sawai, Pulau Seram. Saat naik kapal menuju Ambon, saya membaca artikel tentang masjid tertua Maluku di Kaitetu. Sewaktu turun di dermaga penyebrangan, saya langsung mengubah tujuan. Saya mencari ojek untuk mengantar ke Negeri Kaitetu. Beberapa sempat menolak karena lokasinya terlalu jauh. Sampai saya bertemu tukang ojek yang khawatir melihat saya pergi sendirian. Saya berkata sudah sering melancong sendirian dan selama ini kerap bertemu orang baik. 

Berhubung hari sudah sore, saya datang ke rumah kepala desa. Desa Kaitetu dahulu merupakan sebuah kerajaan. Bahkan, penduduk masih menyebut kepala desa: Bapak Raja. Ia tinggal di bangunan dengan pintu dan pilar besar yang usianya sekitar 300 tahun. Banyak perabot kuno dari kayu jati cantik. Waktu saya bertanya di mana bisa menginap, Bapak Raja menawari untuk tinggal di rumahnya. Saya tidur di kamar dengan ranjang kuno berkelambu. Rasanya seperti putri jaman dahulu! Pagi harinya, saya menemani Bapak Raja sarapan sembari ngobrol tentang pertemuannya dengan raja-raja Nusantara. Bapak Raja memerintahkan seorang tetua desa untuk menemani saya berjalan-jalan. Ia bahkan menunjukkan kitab-kitab dan kain penari cakalang yang usianya ratusan tahun. Sesampainya di rumah, saya mengirimkan novel saya sebagai ucapan terimakasih sudah berbaik hati pada orang asing.

Saya paling senang tinggal agak lama di suatu daerah supaya bisa berinteraksi dengan penduduk lokal. Seperti saat penelitian sebulan di Aceh. Dalam sehari, saya bisa datang ke lima rumah untuk mewawancarai penduduk. Berhubung tiap datang disuguhi kopi, dalam sehari saya bisa minum 5 gelas kopi sambil mendengarkan cerita mereka tentang masa lalu kampungnya. Uniknya, mereka tidak pernah membuat kopinya sendiri. Penduduk menyuguhkan segelas kopi yang dibeli dari kedai yang ada di hampir tiap pojok desa. Harganya murah, hanya dua ribu rupiah. Enak sekali rasanya. Saya baru tahu kalau cara menyeduh kopi mempengaruhi rasanya. Kopi bubuk yang saya beli di kedai yang sama, saat diseduh di Yogya tidak seenak di Aceh. 


Sampai Aceh belum lengkap  rasanya kalau tidak singgah ke nol kilometer Indonesia. Saya baru sadar kalau lagu “Dari Sabang Sampai Merauke” mengacaukan pemahaman geografis orang. Nol kilometer Indonesia bukan di Kota Sabang! Akan lebih tepat jika disebut ada di Pulau Weh. Pulau kecil yang bisa dikelilingi dalam waktu sehari ini menawarkan banyak hal untuk dijelajahi. Mulai dari pergi ke air tejun, melihat pohon yang menjadi rumah ratusan kelelawar, sampai melihat ikan karang yang warna-warni. Serunya lagi, di sini gampang untuk internetan. Beda dengan lokasi cantik lain di Indonesia yang sebagian besar ada di tempat-tempat yang susah dijangkau. 


Salah satu perjalanan paling menakjubkan sewaktu Tiket Pesawat Garuda Indonesia membawa saya mengunjungi jantung Kalimantan. Pesawat yang kami naiki terbang rendah di atas Sungai Kapuas. Di bawah terhampar kelokan-kelokan sungai yang seperti usus. Waktu sampai di desa, saya melihat ikan-ikan sebesar bayi manusia. Beda sekali dengan ikan yang biasa ditangkap di Jawa.

Kalau diceritakan, warna-warni menjelajahi nusantara tidak cukup ditulis dalam sebuah postingan blog.  Jadi ingat kalau saya masih ingin membuat buku tentang Indonesia. Untuk itu saya harus mengunjungi beberapa tempat supaya bisa bercerita pernah datang ke seluruh propinsi Indonesia. Tinggal mencari tiket pesawat dan mengumpulkan uang saku. Supaya hemat, saya menggunakan Skyscanner. Kalau ingin praktis dan kerap mencari penerbangan, hotel, atau sewa mobil saat bepergian, lebih baik download saja aplikasinya. Praktis dan ringan. Buktinya, aplikasi ini sudah dipakai lebih dari 60 juta orang di seluruh dunia tiap bulannya.

Saat memakai Skyscanner, calon traveler bisa membandingkan harga tiket dari berbagai penyedia layanan. Jadi kita tidak perlu repot membuka beberapa situs untuk mengecek harga tiket paling murah. Saat kita memilih suatu penerbangan ke sebuah bandara, sistem skyscanner akan menunjukkan kalender. Sistem akan mengkategorikan pada hari apa harga tiket murah atau mahal. Aplikasi ini juga mengingatkan kita beberapa hal penting sebelum membooking suatu tiket, Mulai dari perbedaan waktu antara jam di tempat berangkat dan tujuan, waktu transit yang terlalu lama, hingga kemungkinan tidak ada lagi transportasi publik untuk penerbangan yang terlalu malam. Kalau misalnya kita belum yakin terbang, kita bisa menandai suatu penerbangan supaya bisa mengeceknya sebelum memesannya. Wah, jadi ingin secepatnya terbang lagi nih.


Disclaimer: Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh ID Corner dan Skyscanner.

7 komentar :

  1. kamu itu bentar lagi hampir menjejahi semua provinsi Indonesia... semoga tahun ini segera tercapai yaaaaa Lutfi.

    BalasHapus
  2. Aaaaa aku tuh selalu senang melihat foto2 dan cerita tentang Indonesia
    Caramu bercerita bikin aku seakan ikut dalam setiap perjalanan
    Suka deh. Semoga terus bisa melangkah keliling Indonesia dan bercerita pada dunia tentang indahnya negeri ini ya

    BalasHapus
  3. Tinggal 5 Propinsi lagi, sebentar lagi tuntas....

    BalasHapus
  4. Ke Pulau Flores, Kak. Ayoooo hueheheh khususnya ke Kota Ende. Kutunggu kakak kece di sini yaaa :*

    BalasHapus
  5. Sepakat anget kalau kita akan bertemu dengan banyak orang baik di jalan. Aku sering solo traveling tapi kayaknya gak seberani kamu. Hebat euy...

    BalasHapus
  6. Woahhh, enak dong ya, jalan-jalan kemana aja dengan skyscanner, jadi enak dan nyaman deh

    BalasHapus