Jumat, 24 November 2017

Hallo dari Danau Toba


( GIVEAWAY ) Pertama kali waktu melihat Danau Toba dari kejauhan, saya merasa takjub. Senang rasanya bisa datang langsung ke tempat yang sejak dulu hanya saya baca atau lihat fotonya. Kesempatan singgah ke Danau Toba ini saya dapat waktu mengikuti suami bekerja di Sumatera Utara. Ia harus mengambil video beberapa narasumber di Kabupaten Simalungun. Karena kabupaten ini merupakan salah satu dari 7 kabupaten yang mengelilingi Danau Toba, rugi dong kalau tidak jalan-jalan.
Kami menyewa sebuah mobil inova baru dengan harga Rp 600.000 per hari. Awalnya, kami sempat meminta mobil lain yang sewanya lebih murah. Tapi, sopir kami berkata kalau ada banyak jalan di Simalungun rusak parah. Butuh mobil yang nyaman kalau tidak ingin pegal-pegal. Sepanjang jalan saya melihat banyak gereja Kalotik yang cantik. Bangunannya rata-rata terbuat dari bata ekspose.

Dulu, saya sempat berpikir mayoritas penduduk di seputaran danau Toba beragama Kristen. Ternyata, masih banyak yang muslim. Saya tidak tahu berapa persen tepatnya tapi sesekali saya menemui masjid di pinggir jalan. Katanya, penduduk muslim awalnya berasal dari Jawa. Mereka diberangkatkan ke Sumatera Utara untuk menjadi buruh di perkebunan-perkebunan Belanda. Perjalanan dengan kapal pada masa itu butuh waktu berminggu-minggu. Tidak jarang ada yang meninggal karena sakit. Pendatang ini menyebut rekannya sebagai saudara sekapal karena tidak punya orang lain di daerah tujuan.

Hingga kini, kebun-kebun sawit peninggalan Belanda tadi masih ada. Sebagian menghiasi perjalanan kami menuju Simalungun. Kami sering melihat sapi-sapi berjalan diantara kebun. Heran, apa nggak takut dicuri? Ternyata sapi tadi memang sengaja digembalakan di sana. Rumput yang ada di tengah-tengah sawit itu jadi makanan gratis. Lebih hemat daripada membeli seikat dengan harga Rp. 50.000.

Di Simalungun, saya melihat banyak babi di jual dipinggir jalan. Lucu kalau dagingnya masih banyak. Moncong dan kakinya menyembul di atas meja. Biasanya penjual ini membuka dagangan dekat dari pasar. Losnya tidak berbaur dengan penjual lain. Waktu berkeliling, saya melihat banyak peternakan dan orang memelihara babi. Babi tersebut makan ampas tahu dari sisa pabrik. Biasanya, diangkut dengan truk dan ditawarkan keliling. Penjualnya berteriak ” Ampas..ampas..” Saya pernah melihat seorang penjual diisengi segerombolan anak SD. Mereka bersepeda di samping truk sambil berteriak, “Apa makananmu?” Saat penjualnya menjawab: “Ampas”, anak-anak tadi tertawa. Dasar badung!

Saat menyusuri tepian Danau Toba, saya melihat bukit berwarna hijau yang berlekuk mengelilingi air. Luas sekali. Dari jauh danaunya terlihat seperti laut. Waktu mencari tempat untuk menikmati pemandangan, saya sedikit kesal karena di banyak tempat terpasang bangunan untuk latar berfoto warna-warni. Buat saya, benda tersebut banyak yang mengganggu pemandangan.

Kami berhenti di tempat  bernama Bukit Indah Simarjurunjung. Di sana mobil harus membayar Rp 20.000 untuk ongkos masuk. Di tempat ini ada banyak hiasan untuk berfoto. Mulai dari jembatan cinta, pelangi, sampai kereta. Saya memilih berfoto diatas bulan. Baru mau turun, tiba-tiba seseorang yang membawa kamera langsung menagih biaya berfoto. Sebenarnya saya lebih suka kalau tempat ini alami tanpa hiasan aneh-aneh. Saya membeli dua buah sortali—kain tenun untuk ikat kepala. Sebuah harganya Rp. 15.000.

Saya sempat mencari ikan bernama pora-pora. Ikan endemik Danau Toba ini juga dapat ditemukan di Danau Singkarak. Bentuknya kecil-kecil dan bersisik perak. Kalau di Jogja, mirip dengan ikan sungai yang disebut wader. Sayang, kami tidak menemui ikan itu. Kata penduduk, pora-pora sudah menghilang bertahun-tahun lalu. Ada yang bilang karena penangkapan berlebih.


Awalnya, kami ingin menyeberang ke Samosir sambil membawa mobil lewat Parapat. Kami ingin berkeliling pulau kemudian keluar lewat Tele. Sayang waktu kami sampai dermaga, hanya kapal feri sore yang berangkat. Akhirnya kami memutuskan mengelilingi Danau menuju Balige. Sebelumnya, kami mampir tempat pengasingan Bung Karno di Parapat. Sepanjang perjalanan, kami melihat sawah yang menghijau. Bahkan, di daerah Lumban Lobu banyak rumah adat batak yang terbuat dari kayu. Kalau tidak hujan deras, pasti kami berhenti untuk singgah sebentar.

Kami mampir di kedai Hello Toba untuk menjemput teman saya, Simon. Kami kemudian berangkat ke pantai. Jadi, saking luasnya Danau Toba, di beberapa tepian ada pasir yang luas seperti di pantai. Bedanya, airnya tidak asin dan ombaknya kecil. Kami kemudian melanjutkan perjalanan untuk melihat matahari terbenam. Semoga saja menjelang terbenam hujan reda. Kami berhenti sebentar  gara-gara melihat pelangi kembar. Kami turun dari mobil dan berhujan-hujanan. Baru kali ini bisa melihat dua pelangi di atas danau. Lebih seru lagi, di atas bukit ada pelangi lain. Yeay. 


Kami kemudian naik ke arah Tarabunga. Sebelum sampai tempat ini, mobil lewat jalan kecil yang menanjak. Di kiri dan kanan kami terdapat sawah yang bertingkat-tingkat. Bagus sekali pemandangannya. Sayang masih hujan jadi kami tidak berhenti. Saat kami sampai di pucak bukit, langit masih kelabu. Sepertinya tempat ini menjadi lokasi pemakaman Rogur di film Toba Dream. Bedanya, di film cuacanya cerah sehingga langit terlihat biru. Tapi, saya dan Gugun masih tetap gembira. Kami turun dari mobil dan berlarian di tengah hujan. Tarabunga ini sebenarnya sebuah pemakaman. Ada nisan-nisan berbentuk seperti monumen.  

Saat hari mulai gelap, kami turun untuk makan malam. Saya meminta Simon untuk menunjukkan rumah makan yang punya masakan dengan buah andaliman. Biasanya, buah yang rasanya pedas ini dipakai di rumah makan Batak. Kami makan malam sambil melihat Danau Toba yang luas sambil ngobrol tentang desa-desa di pinggiran Toba. Sepertinya kunjungan kami kurang lama. Suatu saat nanti kami harus kembali ke sini untuk mendokumentasikan kehidupan sehari-hari masyarakat atau adatnya.  


Selama di Sumatera Utara, kami lebih banyak menghabiskan waktu di Pematang Siantar. Ada dua warung kopi yang kami cicipi: Patarias dan Kok Tong. Patarias ini menjual kopi-kopi dari seputaran Sumatera Utara. Kami membeli beberapa kopi untuk dibawa pulang. Barusan dirosting dan digiling setelah kami beli. Rasanya manis dan ringan. Satu lagi Kok Tong. warung kopi yang ada sejak 1925. Kebetulan letaknya ada di samping Hotel Grand Mega tempat kami menginap. Ngobrol-ngobrol, saya sangat merekomendasikan hotel ini. Dengan harga sekitar 300 sampai 400 ribu sudah mendapat kamar yang bersih dengan ac, shower, juga tv kabel. Tempat menginap kami sebelumnya, dengan harga sama, kamarnya apek. Lampu kamar hotel ini terang dan internet cepat, cocok untuk kerja. Kalau untuk makan malam, pergilah ke Siantar Square. Ada banyak warung makan berjajar di sana. Menunya macam-macam.


Ah, jadi ingin kembali ke tempat ini. Oh iya, saya punya hadiah kain ulos dari Simalungun. Namanya, kain hiou suri-suri Tapak Catur. Selendang ini dipakai saat ada upacara adat. Tertarik memilikinya? Silahkan tinggalkan komentar di postingan ini dan beberapa posting sebelumnya. Bisa juga dengan cara membagikan postergan ini di media sosial dengan tagar #kotakpermengiveaway Atau, ikuti cara lainnya di akun intagram @lutfiretno. Semoga beruntung. Pemenangnya akan saya umumkan di instastories dan postingan ini dua minggu lagi. Mampir terus di blog ini ya? Saya masih punya oleh-oleh kain sutera Mandar hasil dari perjalanan ke Mamuju. Silahkan subscribe blog ini lewat email atau ikuti saya di akun instagram @lutfiretno.

34 komentar :

  1. Wahh waahh kereenn mbaak.. pengenlah sekali" di ajak traveling bareng ke danau Toba.. kelahiran mama, Om dan Tante saya dulu... Yah meskipun di kota medannya tepatnya.. hehheheh.. beneran looh mbak danau Toba ini destinasi yg paling mau saya kunjungi setelah Jogja.. love Indonesia proud Indonesian and proud to be muslim.. hehehhe 😘😘

    BalasHapus
  2. Sayang hujan ya mbak, kurang maksimal main2nya...jadi dolan ke blog mbak lutfi nih.... 😄

    BalasHapus
  3. Ah menyenangka sekali mbak, ikut suami kerja sambil jalan-jalan. Aku jadi ingat cerita mbak lutfi pas kita berjumpa di tempat wedang, ikut suami kesana kemari bantuin kerjaannya.

    Ah aku belum pwrnah ke Danau Toba, aku penasaran dg samosirnya, jadi membayangkan cerita ttg Danau Tobanya.

    Haha kalau lihat spot foto dan bangunan tambahnnya, aku jadi inget wisata di Jogja mbak 😂, beberapa kan sudah gt, jadi ga alami 😂😂 kurang leluasa melihatnya karena terhalang beberapa bangunan 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju bangget. Beberapa jadi kaya sampah visual

      Hapus
  4. keren mbak...iya danau ini luas banget..mungkin butuh.seminggu.baru.puas.telusuri tiap jengkalnya. wah ga nyampe samosir yah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyooo... Pengen lebih lama di sana. Masuk ke daftar tempat untuk dikunjungi lagi

      Hapus
  5. Juni tahun ini, aku hanya bisa melihat danau Toba dari kejauhan (dr Sipiso-piso). Itupun udah seneng bgt. Sekitar sebulan setelahnya, akhirnya ke "real" danau Toba, nyebrang ke Samosir, mandi di danau Toba (pasir putih Parbaba, bahkan sampai hiking di pusuk buhit).

    Baca blog ini jadi bikin aku ingat how excited I was when I was there. 😁😁😁

    BalasHapus
  6. Waa.. Dua pelangi! Cantik sekali fotonya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aslinya lebih cantik. Pengen lebih lama ke sana

      Hapus
  7. Perpaduan yang sangat pas yah, seperti melihat sosok wanita yang berselendangkan pelangi di dekat danau toba

    BalasHapus
  8. Sumpah baca tulisan Lutfi dan liat foto-foto ttg Danau Toba jadi kangen kesana lagi.. Cantik banget :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku yang baru beberapa waktu lalu ke sana aja pengen balik lagi :D

      Hapus
  9. aku belum kesampean ke Toba euy smg klo Dinas lg bisa mampir kesini, btw sealwa mobilnya parah mahal amat mb 600rebeng wkwkkwk tp terbayar y mb liat viewnya yg keren apalagi beruntung liat pelangi kembar 😍😍😍

    BalasHapus
  10. Indahnya Danau Toba ������
    Jadi pengen liburan kesana.

    BalasHapus
  11. Bikin giat navung, biar bisa ke danau toba. Biar danau toba tidak hanya dongeng belaka...
    Ahh, mbak mau selendangnya.. 😘😘

    BalasHapus
  12. Hai mbak aku asal Medan, Danau Toba memang bagai magnet yang membuat pengunjung nya ingin balik lagi. Mampir ke Taman Simalem nya bakal bikin betah lagi, sejuk banget disitu. Btw, aku naksir ulos nya haha.

    BalasHapus
  13. Dari dulu blum kesampean mau ke sana ,, dari liat foto2nya aja udah mupeng stay lebih lama,, senang jadi diri mba,, traveling trus����, sehat terus ya

    BalasHapus
  14. Salam kenal, Mbak. Keren ulasannya. Detail dan menggambarkan sekitar Danau Toba banget. Eh rupanya dari Mandar pula, ya? Wiih. Postingan tentang Mandar pasti gak kalah keren.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari Kalimantan Barat dan Ternate juga mbak :D

      Hapus
  15. cantik ulosnya kak :)

    waah simarjarunjung udah bagus ya.... saya kesini belum ada spot foto seperti itu... hanya saja tetap pengen ke sumut, jika ada kesempatan..pengen ke tarutung kak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, spot foto ini baru ada dua tahunan ini. Banyak banget sekarang

      Hapus
  16. Mau dong kain ulos nya.... Bagus banget sih.... (moga-moga aku yang dapat ya.....)

    BalasHapus
  17. Aku belom kesampaian ke Toba nih padahal dah beberapa kali ke Sumut, huhu. Terakhir batal karena ke Medan buat lewat doang, tujuan utamanya ke Subulussalam :)

    BalasHapus
  18. alamnya menarik ya selama di sana..

    btw aku mau kainnya dong tanpa ikutan giveaway bisa gak? :D

    BalasHapus
  19. Gak nyangka ternyata Danau Toba udah maju banget.
    Saya fokus sama foto bulan sabitnya. :D

    BalasHapus