Selasa, 10 Oktober 2017

Rumah Ketiga bernama Café Tantular



Awalnya saya sempat tidak menyangka kalau di tengah perumahan Taman Kedoya Baru, Jakarta Barat ada sebuah cafe. Tantular namanya. Saya sempat heran. Benarkah yang nama Tantular ini merujuk pada Empu dari Kerajaan Majapahit yang menulis kitab Sutasoma? Saya baru tahu setelah mendengar penuturan pemiliknya. Mereka memang sengaja mengambil nama tersebut karena kagum dengan filosofi Bhineka Tunggal Ika yang melambangkan keberagaman Indonesia. Bahkan, logo mereka terinspirasi dari kepala garuda.



Masuk ke dalam café, saya menemukan tempat yang nyaman . Harga menunya pun cukup terjangkau. Aneka jenis kopi dihargai sekitar Rp. 20.000. Lalu ada beragam menu pasta dengan harga di bawah Rp.50.000. Saya sempat mencicipi Aglio Olio. Sebelum membuatkan menunya, mereka menawarkan daging jenis apa yang ingin saya pakai. Kurang dari setengah jam menu tadi datang. Rasanya ringan dan enak. Sausnya manis tapi tidak terlalu kuat. Buat saya sih cocok sebagai cemilan. Saya masih ingin nambah lagi. Akhirnya saya memesan  bubur manado. Ini sih gara-gara penasaran karena pengunjung lain bilang enak. Dan iya, kombinasi bubur yang ringan dengan sayuran dan ikan terinya cocok. Rasanya ringan untuk sarapan. 




Selain menu yang saya cicipi, Tantular masih memiliki beberapa jenis pasta lain. Ada juga nasi uduk, dan nasi pecel. Saat datang ke sana, saya sempat ngobrol dengan dua pemiliknya. Dua kakak-adik bernama Kyle dan Kane Kusumo. Keduanya mengelola café ini sembari bersekolah. Biasanya Kane sepulang sekolah datang ke cafenya. Mereka mendapat dukungan penuh dari kedua orangtuanya dalam mengelola Café Tantular. Contoh kecilnya, setiap menentukan menu, seluruh anggota keluarga berembuk. Lalu, sang ibu memasak untuk menentukan contoh sebelum menu tersebut ditawarkan kepada konsumen. 


Untuk yang ingin sekadar datang ke sini untuk tempat bertemu, mereka juga menyediakan beragam jenis kopi. Anda bisa memilih mau disajikan hangat atau dingin. Mula dari Americano, espresso, sampai caffe latte. Harga per gelasnya berkisar antara Rp.20.000 sampai Rp. 29.000. Kalau ingin minuman yang lebih ringan, Tantular juga menyediakan beragam jenis teh. Ada beragam jenis teh-teh lokal di sini. Untuk teh premiumnya, Café Tantular menggunakan Dilmah.

Karena mengusung konsep sebagai rumah ketiga, Cafe Tantular ditata dengan ruang nyaman untuk nongkrong. Pengunjung bisa saja datang ke sini untuk bekerja di siang hari. Ada sofa yang nyaman untuk baca buku sambil menikmati mural dan lukisan di dinding.  Di sana ada tempat-tempat wisata unggulan Indonesia seperti Way Rebo, Raja Ampat, dan Borobudur. Saat masuk ke café ini, pengunjung pasti akan menebak pemiliknya menyukai seni. Seluruh dinding café penuh dengan lukisan pelukis-pelukis muda koleksi Pak Kusumo. Ada foto Bung Karno yang dilukis menggunakan kopi. Hingga ukiran besar yang direpro dari Penciptaan Adam-nya Michelangelo. Pelukis-pelukis tersebit kebanyakan seniman muda dari Yogyakarta. Selain lukisan, di ujung café terdapat sebuah kuda berlapis perak. Patung yang  terbuat dari potongan kayu jati tersebut ukurannya sebesar kuda asli lo.



Sesekali, mereka mengadakan nonton bareng pertandingan-pertandingan sepakbola klub-klub ternama dunia.  Oh iya, sebelum pulang saya sempat melihat sebuah lemari berisi barang-barang cantik. Awalnya, saya pikir itu pajangan. Ternyata batik tulis, tas dari kulit buaya, dan barang kerajinan tangan didalamnya dijual.

Penasaran mencoba langsung menunya? Atau membutuhkan tempat untuk arisan atau kumpul-kumpul di Jakarta Barat? Kau bisa menghubungi alamat ini:

Café Tantular:
Jl. Palma Raya Blok FC No 1
Taman Kedoya Baru, Jakarta Barat
Buka: Senin-Minggu Pk 09.00- 21.00



4 komentar :

  1. suasana cafenya cozy cuma kayaknya pas malam pencahayaan bakal kurang jadi remang.

    BalasHapus
  2. Asik buat nongrong plus ngumpulin foto instagramable hehe, kekinian tempatnya

    BalasHapus
  3. Wah ternyata ada bubur manado juga ya....jadi kangen sama bubur manado...

    BalasHapus
  4. konsepnya bagus
    suka sama ruangan yang banyak persegi panjang kacanya itu
    buat latihan soal kesebangunan asyik tuh #halah
    eh bubur manado aku belum pernah coba

    BalasHapus