Minggu, 16 Juli 2017

Cerita dari Masjid Kuno dan Kerajaan Kera, Banyumas





Karena mertua sakit, kami memutuskan pulang seminggu ke Banyumas untuk menengoknya. Kami memanfaa waktu untuk mengelilingi sungai, pasar, dan hutan yang ada di seputar Banyumas.  Tempat yang pertama saya kunjungi adalah Masjid Soko Tunggal Cikakak. Katanya, masjid ini adalah masjid tua yang sering didatangi peziarah. Ada yang sekadar sembahyang, meminta berkah, sampai mencari pesugihan. Masjid ini letaknya di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Banyumas. Sekitar satu kilometer dari Jalan Raya Ajibarang-Wangon. 
Masjid Soko Tunggal Cikakak letaknya di ujung desa. Di sana udaranya masih segar karena dikelilingi oleh bukit-bukit yang hijau. Saya datang bertiga dengan suami dan keponakan. Begitu sampai, kami langsung disambut puluhan kera. Catatan untuk yang akan mengunjungi tempat ini. Hati-hati dengan topi, kacamata, atau barang-barang yang mudah diambil. Monyet-monyet ini suka usil.


Masjid Soko Tunggal Cikakak ukurannya jauh lebih kecil dari bayangan saya. Lebih mirip mushola malah. Bentuknya persegi dan temboknya terbuat dari dinding bata. Masjid ini sudah mengalami renovasi berkali-kali. Dahulu, dinding masjid terbuat dari bambu dan atap sirap. Saat ini atap masjid berubah menjadi seng. Bukan lagi atap sirap dengan alasan kepraktisan. Atap tersebut harus diganti beberapa tahun sekali. Selain itu, tidak udah untuk mencari pembuat atap sirap.  Melihat bentuk masjid ini, saya langsung teringat Masjid Wapaune di Maluku. 



Waktu saya masuk ke masjid, ada tiga orang yang sedang berdoa. Salah satunya duduk bersila di depan tiang utama masjid. Bentuknya unik dengan pahatan bunga dan motif abstrak warna-warni. Mirip dengan patung totem Suku Indian malah. Di bagian atas soko masjid ada bentuk mirip sayap yang mengarah ke empat penjuru. Di sebelah kiri masjid terdapat sekat dari dinding bambu tempat sembahyang perempuan. 


Saya sempat ngobrol dengan salah satu juru kunci masjid. Namanya Pak Sulam. Ia bercerita kalau dirinya keturunan ke 12 juru kunci masjid tersebut. Dia sendiri tidak tahu pasti umur masjid tersebut. Pendahulunya berkata kalau Masjid Soko Tunggal Cikakak sudah ada sebelum Kerajaan Demak. Konon katanya, pendiri masjid yang bernama Mbah Tolih diutus untuk membentuk masyarakat Islam. Sebelum nanti akan muncul kerajaan Islam yang menggantikan Majapahit. Di kalangan arkeolog sendiri masih banyak perdebatan tentang kapan pertama kali masjid ini berdiri.

Jaman dahulu, orang-orang dari banyak tempat datang ke tempat ini untuk belajar agama Islam. Bahkan, ada mitos yang menyebut jika monyet-monyet yang ada di sekeliling masjid tadinya murid-murid Mbah Tolih. Konon, Mbah Tolih murka karena murid-muridnya bandel saat disuruh solat jumat. Mereka lebih memilih mencari ikan di sungai untuk menangkap ikan. Mbah Tolih kemudian mengutuk mereka karena kelakuananya tidak ada bedanya dengan kera. Yang pasti, penduduk sekitar terbiasa dengan monyet. Saya melihat seorang ibu keluar dari rumah untuk memberi makan  monyet. Sepertinya hampir seluruh penduduk desa memiliki ketapel. Gunanya untuk mengusir monyet yang kerap mengganggu.

Dari keseluruhan penyusun masjid, hanya soko tunggal, bedug, dan kentongan yang masih dipertahankan sejak masjid ini berdiri. Sampai saaat ini, masjid Soko Tunggal Cikakak, Banyumas masih dipakai untuk salat 5 waktu. Ramai pada saat perayaan hari besar seperti hari raya Idul Adha dan Idhul Fitri. Perayaan terbesar masjid terjadi pada bulan Rajab. Pada saat tersebut penduduk desa yang merantau banyak yang pulang kampung. Mereka kemudian bergotong royong untuk membuat pagar bambu yang mengelilingi makam dan beberapa titik.


Masjid tersebut kerap didatangi orang-orang dari berbagai wilayah. Sebagian besar tujuan utamanya berziarah ke Makam Mbah Tolih. Sayang, kami tidak bisa masuk ke dalam petilasan yang ada di dekat makam. Letaknya ada di bukit kecil di seberang sungai yang tidak jauh dari masjid. Komplek tersebut dipagari oleh bambu. Meskipun pintu gerbangnya tidak dikunci, kami tidak jadi masuk. Mbah Sulam menyatakan pengunjung tempat tersebut harus ditemani oleh juru kunci. Kami wajib membawa menyan, bunga, dan minyak wangi sebagai syarat untuk meminta ijin.




4 komentar :

  1. wah harus hati2 sama keranya, tapi yg pasti aku suka bagian dalem masjidnya
    dinding dari bambunya masih eksotik, adem liatnya

    BalasHapus
  2. aku wong banyumas kok malah gak pernah kesaana :(

    BalasHapus
  3. di palembang juga ada makam yang banyak monyetnya.. cuma monyet di sana mengganggu gak lutfi?

    BalasHapus