Minggu, 09 April 2017

Saat Foto Bercerita tentang Bali di Uma Seminyak


Konon katanya, segala sesuatu itu akan terlupakan jika tidak direkam. Hal tersebut yang dilakukan oleh 7 orang pencerita di pameran foto UNSPOKEN. Kegiatan yang berlangsung di Uma Seminyak, Bali tersebut merupakan bagian dari program “Saya Bercerita”. Vifick—seorang fotografer yang tinggal di Bali—mengajak peserta pameran untuk menggunakan fotografi sebagai medium bercerita.

Sebelum berpameran di Uma Seminyak, ketujuh pencerita tersebut melalui proses panjang. Awalnya, mereka mendaftar setelah melihat iklan di media sosial. Meskipun kelas “Saya Bercerita” hasil akhirnya berupa foto, Vifick tidak memulainya dengan mengajarkan teknik fotografi. Tiga pertemuan awal “Saya Bercerita” justru dimulai dengan curah ide. Vifick ingin lebih banyak menggali tentang alasan peserta memoto.

Ini mentornya yang bernama Vifick. Foto oleh Martino Wayan.

Kelas kemudian berlanjut dengan sesi di luar ruangan. Di sana peserta diajak melatih insting visualnya. Mereka belajar membayangkan untuk memoto benda-benda yang ada disekelilingnya tanpa kamera. Untuk memperkaya referensi peserta, mereka juga mendiskusikan tentang foto bercerita dari dalam dan luar negeri. Teknik fotografi baru dimulai pada pertemuan ke empat. Setelah menjalani delapan pertemuan, peserta mulai membuat serial foto yang temanya diambil dari kesehariannya. Melihat foto-foto ini seperti melihat kehidupan biasa orang-orang di Bali yang tidak lepas dari seni, umat hindhu, dan rumah-rumah berarsitektur Bali.

Saat pameran, foto ketujuh pencerita ditempel dengan display yang berbeda. Ada yang ditempel di dinding, ditata berkeliling di atas meja, bahkan ada yang ditaruh dalam sebuah kaleng di meja dengan hiasan bunga mawar layu. Saya sempat tidak mengira kalau di dalam kaleng tersebut ada satu set foto-foto. 

Karya favorit saya adalah sebuah kumpulan foto mirip buku harian milik Ratna. Ia menempelkan foto-foto tentang ayah dan keluarganya di dalam sebuah buku besar. Ia Juga menuliskan kebiasaan-kebiasaan keluarganya terutama tentang sang ayah. Satu-satunya laki-laki di rumahnya ini mengajar di ISI Denpasar. Dari segi teknis fotografi, foto-foto di dalam buku tersebut biasa sekali. Tapi, saya menikmati gaya bertutur si pemilik cerita. Membuka album foto tersebut seperti membaca buku harian seseorang. Ada hal-hal sepele tentang ayahnya yang kadang membuat saya tertawa. Salah satunya kebiasaan si Ayah menandai baju dan semua barang miliknya dengan inisial namanya. Termasuk selang. Benar, si Ayah memberi inisial nama di selang air yang biasa dipakai untuk menyiram tanaman. “Aneh” kan?


Lalu ada sekumpulan foto menarik milik Martino Wayan. Foto-foto ini berwarna hitam-putih. Entah kenapa, saya merasa foto-foto Martino punya nada sedih. Tidak hanya di pameran ini tapi juga di akun instagramnya @martinowayan. Foto-foto yang dipamerkan  bercerita tentang ayahnya yang tiap pagi menyetel radio keras-keras. Lewat fotonya, Martino bercerita tentang keseharian bapaknya. Yang beberapa kali dirawat di rumah sakit jiwa dan harus mengonsumsi obat tanpa putus. 

Di sini saya sempat berkenalan dan makan malam bersama dua orang peserta pameran: Martino Wayan dan Candra Mertha. Kami makan nasi jenggo yang dibeli di seberang jalan depan Uma Seminyak. Porsinya kecil, mirip dengan nasi kucing ala Yogya. Nasi tersebut ditambah lauk ikan pedas dan mie. Nasi jenggo itu dibungkus dengan kertas minyak berbentuk kerucut. Kata Vifick, biasanya nasi tadi dibungkus memakai daun pisang. Baru kali ini lo saya menemukan makanan seporsi harganya Rp. 5,000. Atau saya aja ya yang kurang gaul dengan Bali? Padahal saya sudah 8 kali ke pulau ini. Sepertinya saya perlu kembali lagi lebih lama supaya bisa mengenali penduduk lokalnya. 


Tadinya, Vifick mengajak saya datang lebih sore supaya bisa mencicipi kopi di Titik Temu Coffe yang menjadi satu komplek dengan ruang pameran. Tempat ngopi ini punya atap terbuka dimana pengunjung bisa melihat matahari terbenam. Sepertinya seru. Di komplek tersebut ada juga restoran dan toko yang menjual produk buatan tangan. Bangunnya berwujud rumah tropis dari kayu dengan desain cantik. Bahkan, kamar mandinya memiliki detail yang menyenangkan untuk dilihat. Vifick bercerita kalau pemilik tempat tersebut seorang arsitek bernama Jacob Gatot Sura. Pantes keren bangunananya. Kalau teman penasaran, silahkan datang ke Uma Seminyak di Jl Kayu Cendana no 1, Oberoi, Seminyak, Bali.


Balik lagi ke “Saya Bercerita”. Rencananya, Vifick akan membuat kelas-kelas lain dengan konsep serupa. Kalau teman-teman ingin bergabung, silahkan ikuti infonya di akun instagram @sayabercerita. Kelas berikutnya bakal diumumkan di sana.

Seluruh foto dengan saya di dalam frame diambil oleh Vifick. 

19 komentar :

  1. Waah menarik ini mbak, foto memang bukan melulu tentang teknik memotret. Tapi juga bagaimana membuat foto bercerita. Konon, foto yg baik adalah foto yg bercerita meski tanpa narasi ataupun caption.

    BalasHapus
  2. keren instalasi fotonya
    selama ini kalau liat pameran kebanyakan juga cuma di pasang ditembok atau di gantung gitu, ternyata kalau dikombinasikan dgn media lain (macam kaleng) unik juga :)
    out of the box!

    BalasHapus
  3. unik mbak foto-fotonya, masing-masing orang memiliki sudut pandang pengambilan berbeda, jadi berwarna

    BalasHapus
  4. keren sekali mbak, saya penasaran dengan foto-foto milik Martino, ( langsung ke instagramnya ) kasihan juga ya bapaknya harus dirawat di RSJ

    BalasHapus
  5. aku dari dulu pengen bisa banget foto tapi yang hasil fotonya mampu berbicara, kayak karyanya Steeve ( fotografer Natgeo ) , meski cuma gambar wajah aja tapi tersirat maknanya.

    BalasHapus
  6. keren banget mbak.
    cara Vifick menggugah peserta.. supaya bisa perhatikan sekeliling..
    prosesnya aja unik...
    pasti pun meliaht foto2 itu satu persatu..
    berapa lama mbak makan waktu menikmati semuanya?

    BalasHapus
  7. ini keren deh, kaya nonton film karena foto-fotonya mampu bercerita dengan caranya masing masing. Jadi kepo sama martino wayan dan kelanjutan foto-fotonya itu hehehe. soal foto ayahnya Ratna yang suka nandain barang-barang miliknya... itu bapakku banget! hahahaa. glad to know he's not alone ;)

    BalasHapus
  8. Saya bukan ahli foto tapi suka foto-foto meskipun hanya berbekal kamera hp. Dan lebih suka memotret sesuatu yang 'do something' artinya sebuah kejadian, sehingga foto tersebut bisa bercertita.

    Seperti foto-foto mbak Lutfi diatas, banyak hal yang bisa diceritakan dari foto-foto tersebut. Pokoknya keren deh :)

    BalasHapus
  9. pingin banget jadi seorang fotografer yang bisa mamerin karyanya..tapi....
    suatu saat nanti semoga

    BalasHapus
  10. pengen bangat jadi photograper tapi apa daya mau beli dslr masih pontang panting wkwkwkwkwk

    BalasHapus
  11. Saya pun lebih suka foto yang bercerita. Walaupun kesannya ada yang biasa aja hasil fotonya. Tapi kalau memiliki cerita di baliknya, nilainya jadi plus :)

    BalasHapus
  12. GAMBAR MAMPU BERCERITA.

    Berpameran dapat sebagai ajang eksistensi diri, dimana kemampuan kita dapat dinikmati orang lain, dinilai, yang akhirnya dapat menambah kepercayaan diri.

    Galery nya "nyeni" banget :)

    Inget jaman sekolah dulu, segala property miik pribadi "ditandai dg menuliskan nama" ... hihhihi seperti Bapak dalam kisah itu, hingga selang pun bernama.

    BALI .. igin ku kemBALI, menikmati "nasi jenggo" hehehe.. penasaran ih.

    Terimkasih, tulisan yang keren mba Lutfi :)

    BalasHapus
  13. Sangat tertarik untuk belajar banyak ttg fotografi tapi belum kesampaian :) Ingin bisa menghasilkan foto yg ga 'dingin', seperti yg mba bilang, bisa bercerita. Seru bgt acaranya yaaa!

    BalasHapus
  14. Keren ih, aku juga seneng banget lihat-lihat foto yang mengandung cerita di dalamnya, kayak mengajak kita berimajinasi gitu.

    BalasHapus
  15. Foto memang bisa berbicara ya Mba. Banyak sekali cerita dari hanya sebuah foto.

    BalasHapus
  16. Terakhir aku makan nasi jenggo kapan ya... kayaknya wis suwi banget deh. Belum kesampaian nih mampir ke Seminyak, ngelewatin aja..

    BalasHapus
  17. cerita dalam fotonya asyik, benar2 bercerita
    aku jadi penasaran pas mengkhayal memotret dulu tanpa kamera karena biasanya suka spontan aja gitu

    BalasHapus
  18. Biarlah gambar yang bercerita..hhe
    Keren-keren ya, Mba gambarnya. Aku jadi terinspirasi buat bikin bingkai foto di kamar..hehe

    BalasHapus
  19. Melihat fotonyang bercerita itu selalu jadi wisata tersendiri

    BalasHapus