Rabu, 15 Februari 2017

Merahnya Festival Imlek Indonesia di Palembang

Palembang merupakan salah satu kota perdagangan yang ada sejak jaman Sriwijaya. Kapal-kapal pedagang dari banyak daerah datangan untuk berniaga di daerah ini. Beberapa bahkan menetap dan mewarnai budaya di Kota Palembang. Salah satunya, para pendatang dari negeri Tionghoa. Mereka berbaur dan memberi banyak peninggalan di Kota Palembang. Salah satunya perayaan Imlek.

Tahun ini, Grup Kompas Gramedia bekerjasama dengan Kementrian Pariwisata merayakan keberagaman tersebut dengan tajuk Festival Imlek Indonesia 2017. Saya beserta dua rekan blogger, Gana dan Innayah, kali ini mendapat undangan untuk mengikuti jalannya Festival Imlek Indonesia 2017. Selama dua hari, kami mengikuti rangkaian kegiatan tersebut dengan bonus berwisata sejarah dan kuliner di Kota Palembang.


Acara dibuka pada hari Sabtu, 11 Februari dengan pawai oleh komunitas-komunitas yang ada di Sumatera Selatan.  Ada grup pramuka, paskibaka, koko dan cici, hingga barongsay memenuhi jalanan. Awalnya saya sempat heran waktu melihat reog Ponorogo tampil di sini. Ternyata, acara ini juga dihadiri komunitas perantau yang menetap di Sumatera Selatan. Sebelum masuk ke ruangan di Palembang Sport and Convention Centre, peserta pawai ini membuat pertunjukkan. Ada tarian barongsay hingga beragam musik yang dibawakan oleh peserta.


Acara dalam gedung silih berganti dengan beragam pertunjukan tari dan lagu dengan nuansa imlek. Ini kali pertama saya mendengar guritan: pantun tradisional dalam bahasa daerah. Dahulu pantun ini dilantunkan pada upacara pemakaman. Panjangnya bisa mencapai tujuh hari tujuh malam. Guritan ini merupakan salah satu kekayaan sastra lisan di Indonesia yang hampir punah. Isinya tentang petuah bijak agar manusia bisa menjalani hidup dengan baik. Karena kali ini guritan dipertunjukkan dalam rangka Imlek, isinya tentang keberagaman di Palembang. Guritan tersebut mengajak kita untuk menjaga kerukunan.

Pengunjung kemudian dihibur dengan pertunjukkan tentang legenda Pulau Kemaro. Saya suka menonton ini karena melihat pemainnya gadis-gadis cantik dengan baju hias warna-warni ala Tiongkok dan tenun songket.  Pengen bawa pulang bajunya satu. Pulau Kemaro ini merupakan salah satu tujuan wisata di Palembang. Di tengah pulau ini terdapat gundukan yang dipercaya sebagai makam Siti Fatimah dan kekasihnya, Tan Bun Ann. Banyak orang melakukan ziarah di pulau ini pada saat Cap Go Meh.

Puncaknya dibuka oleh tabuhan gong oleh Gubernur Sumsel Alex Noerdin bersama deputi Pengemabangan dan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kemenpar I Gde Pitane dan beberapa pejabat daerah. Seusai membuka, Gubernur juga menandatangai Sampul Hari Pertama perangko seri tahun ayam api. Saya dan Gana sempat ingin memilikinya. Seru kan kalau kami bisa mengirimkan dari Palembang, tempat perangko tersebut diluncurkan? Kami mencari ke kantor pos keliling yang ada di depan gedung, sayang kami harus cepat berpindah ke lokasi lain hingga tidak sempat membelinya.

Kami mengikuti gubernur dan rombongan menuju Kampung Al Munawar yang beralamat di 13 Ulu.  Kampung yang terletak di tepi Sungai Musi ini merupakan daerah yang dihuni oleh warga keturunan Arab. Nenek moyang mereka sudah ratusan tahun datang ke Palembang dan berbaur dengan masyarakat lokal. Di tempat ini, nuansa Arab terlihat kental. Kampung Al Munawar menjalani perbaikan fisik untuk menjadi salah satu tujuan wisata di Sumatera Selatan. Di beberapa tempat, pengunjung terpesona oleh bangunan-bangunan tua yang cantik. Tunggu tulisan lebih panjangnya di postingan berikut ya. 



Selama dua hari, ada banyak sekali acara di Palembang Sport and Convention Centre. Mulai dari festival mie, lomba busana, sampai lomba memasak. Ada juga stand yang menyewakan baju-baju ala negeri Tiongkok. Pengunjung bisa berfoto di beberapa banner dengan nuansa Tiongkok. Serunya, pengunjung bisa masuk dengan gratis. Wah, sayang festivalnya cepat berlalu. Saya masih ingin mencicipi nuansa imlek di Palembang

22 komentar :

  1. penasaran dengan kampung Al Munawar...
    padahal dekat dengan rumahku dulu, dulu sih memang belum dibagusin ya
    nggak sabar nuggu lanjutan ceritanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lagi ditulisss... Paling senin diupload. Belum sempat milih foto nih

      Hapus
  2. meriah sekali, seperti warna merah yang sangat kental dengan suasana imlek

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, acaranya banyak banget. Kita aja nggak bisa ngikutin semuanya.

      Hapus
  3. Balasan
    1. Baca tulisanku berikutnya deh buat referensi.

      Hapus
  4. menyenangkan sekali mbak nampaknya :D

    BalasHapus
  5. Akhirnya ke Palembang bisa jumpa sama gubernur Palembang ya :p

    BalasHapus
  6. tahun 2006 sempet mampir ke Palembang, foto-foto di atas jembatan ampera dan makan pempek :D
    tenyata imlek disana rame juga ya :D

    BalasHapus
  7. Rame banget ya Mbak. Ada paskibra juga? wih wih, beragam komunitas jadi satu ya
    Aku belum pernah menjejakkan kaki ke Palembang heu heu...

    BalasHapus
  8. Keren hasil foto-fotonya mba. Saya suka acara yang penuh keceriaan dan keramaian seperti ini, ada banyak warna.

    Ini kunjungam perdana, salam kenal dari Makassar

    BalasHapus
  9. Hallo Plembang. Wonf Kito Galo
    Hiehiehiehiee

    Perayaan IMLEK juga sangat meriah di Singkawang (Kalimantan Barat) dan kemudian disusul dengan perayaan Cap Go Meh. Wah senang rasanya jika bisa berkunjung ke Palembang suatu hari nanti. Saya ada banyak teman di Palembang, dan beberapa kali pernah mendapat kiriman Pempek dan cuko nyo. Hieiheihee. Salam kenal ya dari Blogger Pontianak.

    BalasHapus
  10. Wah guritan, guritan ini dulu waktu SD kayak pernah dger cuma skrg sudah sedikit lupa.

    Jadi penasaran isinya kayak gimana.

    Imlek-imlek di tempat lain ternyata punya ciri khasnya ya kak. Yang ini meriah dan menyenangkan sekali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa... Di tiap tempat pasti kecampur dengan budaya lokal. Aku aja pengen ke Singkawang

      Hapus
  11. wow sampe ada festivalnya begini, pasti seru banget nih.

    btw, itu... ada patkai? ._.

    BalasHapus
  12. Ternyata di kota Wong Kito Galo festival imlek dikemas dengan sangat apik. Palembang benar2 berbenah untuk destinasi wisata yak.
    Penasaran dengan kelanjutan wisatanya.

    BalasHapus
  13. 1 kota yg ampe skr blm pernah aku datangin, padahl aku tergila2 dgn kulinernya :D... jd pgn ke palembang abis baca ini...

    BalasHapus
  14. ada rombongan perjalanan ke baratnya, xixi
    cu pat kainya loh haha

    asyik mbak reportasenya...

    BalasHapus
  15. Aku belum pernah ke Palembang :p padahal suka banget sama pempek2 hahaha

    BalasHapus