Kamis, 17 Agustus 2017

Nasionalisme lewat sepatu



Beberapa tahun ini, saya mulai membiasakan membeli barang kerajinan tangan. Saya suka karena tiap barang unik. Barang tersebut  tidak bisa diproduksi masal karena dibuat satu per satu dengan tenaga kerja manusia. Sebagai pemakai, saya merasa senang karena produk tersebut tidak pasaran. Selain itu, membeli produk kerajinan tangan buatan Indonesia berarti memberi pemasukan pada pembuatnya. Semakin banyak kita memakai produk kerajinan tangan buatan Indonesia, sama dengan membuka lapangan pekerjaan.

Senin, 07 Agustus 2017

Berkenalan dengan Tanah Ombak di Padang



Waktu Melati Taman Baca menawari saya untuk ikut program magang literasi di Kota Padang, saya langsung bilang iya tanpa pikir panjang. Di bayangan saya, seru bisa tinggal di rumah penduduk sekaligus bertemu pegiat literasi lain. Saya juga bisa belajar bagaimana mengajak masyarakat menyukai buku. Lokasi magang kami di Tanah Ombak, sebuah taman baca yang beralamat di Jalan Purus 3 no 30, Kota Padang. Awalnya saya agak kaget waktu sampai di sana. Taman bacanya terletak di ujung gang sempit. Dalam bayangan saya, sebuah tempat yang dipilih sebuah direktorat di Kementrian menjadi lokasi magang pasti punya fasilitas lebih.  Tanah Ombak “hanya” sebuah rumah dengan atap seng dan tembok sederhana. Saya baru mendapat jawaban dalam beberapa hari kemudian. Ruangan luas penuh rak buku tersebut unik karena punya banyak kegiatan.

Jumat, 21 Juli 2017

Alasan Memilih Laptop Mac Book




Sebagai penulis dan pembuat film dokumenter, alat kerja paling penting yang saya gunakan adalah laptop. Benda ini sudah seperti separuh otak saya. Semua data penting mulai dari foto-foto tempat-tempat yang pernah saya kunjungi, dokumentasi pekerjaan, hingga rencana mendatang ada di sini. Saya bahkan tidak pernah pergi keluar kota tanpa membawa laptop.

Minggu, 16 Juli 2017

Cerita dari Masjid Kuno dan Kerajaan Kera, Banyumas





Karena mertua sakit, kami memutuskan pulang seminggu ke Banyumas untuk menengoknya. Kami memanfaa waktu untuk mengelilingi sungai, pasar, dan hutan yang ada di seputar Banyumas.  Tempat yang pertama saya kunjungi adalah Masjid Soko Tunggal Cikakak. Katanya, masjid ini adalah masjid tua yang sering didatangi peziarah. Ada yang sekadar sembahyang, meminta berkah, sampai mencari pesugihan. Masjid ini letaknya di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Banyumas. Sekitar satu kilometer dari Jalan Raya Ajibarang-Wangon. 

Jumat, 16 Juni 2017

Kantor Kecil di Pojok Rumah


Sewaktu masih bekerja untuk sebuah jaringan LSM, saya bermimpi punya kantor di rumah dan sesekali terbang ke pelosok Indonesia. Awalnya, hal tersebut terkabul secara tidak sengaja. Menikah dan pindah ke Jakarta memaksa saya berganti pekerjaan. Saya yang awalnya menulis dan mengerjakan video sebagai hobi, mengubahnya mencari alat mencari nafkah. Tinggal di Jakarta dengan status baru ternyata membutuhkan banyak biaya. Tabungan saya kemudian berkurang dengan cepat. Hal tersebut memaksa saya dan suami mencari usaha yang bisa dilakukan dari rumah. Tekad ini menguat karena saya tidak mau menghabiskan waktu untuk bekerja dan menua di jalan. Saya masih ingin punya energi untuk mengerjakan hal-hal menyenangkan seperti proyek sosial, membaca, mengunjungi berbagai wilayah di Indonesia, dan bermain. 

Kamis, 18 Mei 2017

Warna yang Menyemarakkan Duniamu




Saya punya tempat bermain baru namanya Buka Buku. Ruang baca yang beralamat di Ruko Puri Sentra Niaga Blok A3, Kalimalang ini punya banyak koleksi buku keren. Ruangannya juga luas dan berwarna-warni. Membuat orang betah duduk-duduk sambil membaca atau bermain di sana. Sebelumnya, ruko tersebut bercat putih dan terlihat suram. Ruang baca itu terlihat lebih hidup setelah Mbak Nunu, pemiliknya, mengubah interiornya dengan rak-rak dan mengecat ulang tembok, jendela, dan pintu-pintunya.

Sabtu, 29 April 2017

Bekerja Sambil Menikmati Liburan di Kraton Yogyakarta


Saya selalu senang jika mendapat tugas di Yogyakarta. Itu artinya, saya bisa mampir untuk menengok orangtua sembari berwisata kuliner.  Sebagai orang yang lahir dan besar di Yogyakarta, saya punya banyak kenangan dengan banyak rumah makan di tempat ini.


6 hari mengelilingi kraton membuat saya teringat masa kecil. Dulu orangtua saya kadang mengajak ke kraton tiap ada acara besar. Waktu kecil, kakek juga sering membacakan cerita-cerita wayang. Pertunjukan wayang, latihan tari, dan ruangan-ruangan di kraton mengingatkan saya pada masa itu. Saya melihat gamelan Kyai Guntur Madu dan Nogo Wiloto ditaruh di bangsal. Saya jadi kangen mendengarkan kedua gamelan tersebut saat peringatan sekaten. Musiknya pelan dan sakral. Saya juga suka berjalan-jalan di bangunan tua kraton yang memiliki perpaduan arsitektur hindis dan jawa dengan sudut-sudut dan perabotan cantik. Termasuk didalamnya, tegel-tegel kunci warna-warni yang menghiasi banyak ruangannya. Suatu saat nanti, saya ingin membangun rumah di Yogya dengan tegel ini di interiornya.

Minggu, 09 April 2017

Saat Foto Bercerita tentang Bali di Uma Seminyak


Konon katanya, segala sesuatu itu akan terlupakan jika tidak direkam. Hal tersebut yang dilakukan oleh 7 orang pencerita di pameran foto UNSPOKEN. Kegiatan yang berlangsung di Uma Seminyak, Bali tersebut merupakan bagian dari program “Saya Bercerita”. Vifick—seorang fotografer yang tinggal di Bali—mengajak peserta pameran untuk menggunakan fotografi sebagai medium bercerita.

Kamis, 30 Maret 2017

Mencari Ondel-ondel di Belantara Jakarta

Jakarta-ondel ondel

Tiap sore, jalan depan tempat tinggal saya dilewati rombongan ondel-ondel. Biasanya, satu grup terdiri atas 4 orang. Pemakai boneka ondel-ondel, pendorong gerobak musik, dan dua orang yang mengumpulkan uang receh sebagai pemakai boneka pengganti.

Awalnya, saya pikir kelompok ondel-ondel itu berasal dari daerah seputar Pasar Minggu. Sampai saya dan Gugun datang ke Kampung Kramat Pulo untuk membuat film tentang Ondel-ondel. Separuh penduduk kampung tersebut hidup dari mengamen ondel-ondel. Siang hari, para pengamen ini bertebaran di seputaran Jakarta. Pertama tiba di tempat tersebut saya melihat belasan ondel-ondel berjajar di pinggir jalan dan gang-gang sempit. Kesan pertama saya, ondel-ondel tadi kotor. Berbeda dengan ondel-ondel yang dipajang di pertokoan atau perkantoran setiap ada acara.

Jumat, 03 Maret 2017

Al Munnawar, Kampung Arab Penuh Warna di Palembang


Saat pertama kali datang ke Kampung Al Munnawar, saya tertarik dengan pintu-pintu besar dan jendelanya yang berwarna-warni. Beda sekali dengan foto-foto rumah-rumah kusam yang pernah saya lihat sebelumnya di beberapa blog. Saya baru tahu kalau pemerintah Propinsi Sumatera Selatan baru saja membenahi Kampung Al Munnawar. Hasilnya adalah kampung dengan lorong-lorong bersih yang nyaman untuk berjalan kaki. Tempat yang terletak di kawasan 13 Ulu ini rencananya akan menjadi salah satu tujuan wisata religi di Palembang.

Rabu, 15 Februari 2017

Merahnya Festival Imlek Indonesia di Palembang

Palembang merupakan salah satu kota perdagangan yang ada sejak jaman Sriwijaya. Kapal-kapal pedagang dari banyak daerah datangan untuk berniaga di daerah ini. Beberapa bahkan menetap dan mewarnai budaya di Kota Palembang. Salah satunya, para pendatang dari negeri Tionghoa. Mereka berbaur dan memberi banyak peninggalan di Kota Palembang. Salah satunya perayaan Imlek.

Selasa, 07 Februari 2017

Glamping Seru di Trizara Resort, Lembang


Saya paling suka liburan di tempat-tempat yang banyak pepohonan hijau dan udaranya masih bersih. Termasuk daerah Lembang, Bandung. Tempat ini sejuk, punya banyak tujuan wisata, dan di sepanjang jalan kita bisa cuci mata melihat para penjual bunga. Beberapa waktu lalu, saya berlibur di sana dan menginap di Trizara Resort, Lembang. Di tempat ini, tamu kemping di tenda tapi dengan fasilitas ala hotel berbintang. Istilah kerennya sih, glamping. Sebelumnya, saya tertarik menginap di Trizara Resort gara-gara melihat foto-foto di akun instagram mereka. Kelihatannya menyenangkan.  

Senin, 30 Januari 2017

Glodok: Wisata Imlek dan Doa-doa Keberuntungan di Awal Tahun



Jika ingin melihat akulturasi budaya Tionghoa di Indonesia, datanglah ke Glodok. Pecinan terluas di Jakarta ini banyak dihuni oleh para pedagang keturunan Tionghoa. Mereka membawa tradisi dari Negeri Tiongkok termasuk perayaan menyambut musim semi yang dikenal dengan nama Imlek.

Mumpung libur, saya ditemani suami dan seorang teman berniat mengelilingi Petak Sembilan pada tanggal 1 Imlek. Kami sengaja menggunakan kereta api agar leluasa berjalan kaki mengelilingi Pecinan. Sebagian toko di Glodok tutup. Sepertinya, pemiliknya yang keturunan Tionghoa memilih untuk merayakan Imlek bersama keluarganya. Beberapa teman keturunan Tionghoa yang saya hubungi bercerita Imlek merupakan saat berkumpul dengan keluarga. Teman-teman saya, melakukan makan malam bersama keluarga besarnya sehari sebelum imlek. Mereka percaya jika keluarga yang berkumpul akan terlindungi dari marabahaya. Beberapa melanjutkan dengan sembahyang di kelenteng.

Senin, 02 Januari 2017

Dongeng Ala “Gadis Penenun Mimpi dan Pria yang Melipat Kertas Terbang”



Konon katanya, pada suatu tidur, kau bisa sampai ke suatu tempat yang disebut Ujung Pelangi. Di sana ada seorang gadis dengan wajah tertutup cadar yang akan menenunkan Mimpi untukmu.

Kalimat tersebut merupakan cuplikan dari dongeng yang baru saja saya baca. Saya tertarik membacanya karena menyukai judulnya: “Gadis Penenun Mimpi dan Pria yang Melipat Kertas Terbang.” Novel karya Gina Gabrielle tersebut bercerita tentang Dunia Mimpi yang terancam hancur. Gadis penjaganya mulai kewalahan menenunkan mimpi untuk orang-orang. Ada lebih banyak orang yang kehilangan harapan daripada persediaan benang miliknya.