Kamis, 09 Juni 2016

Mari Menonton Prenjak dan Film-film Nominasi Cannes

Adegan dari film Kara, Anak Sebatang Pohon
Saya penasaran ingin menonton film Prenjak setelah beberapa media ramai memberitakan kemenangannya di Semaine De La Critique Cannes. Setelah melewatkan beberapa kali pemutarannya di Jakarta, saya menontonnya di Boemboe Dapur Night yang ke- 4 tanggal 5 Juni lalu.  Kami sudah datang ke Dapur Film di Jalan Ampera no 17 A pukul 19.00 sesuai dengan jadwal di undangan. Berhubung ruangannya dipakai untuk taraweh terlebih dahulu, jadilah kita menunggu sambil ngobrol-ngobrol dengan tamu lain.

Waktu kami datang, sudah ada 40an orang yang mengisi daftar tamu. Asyiknya, di sini kita tidak ditarik tiket masuk dengan nominal tertentu. Panitia menyediakan kotak saweran yang bebas kita isi. Saya selalu tertarik dengan cara seperti ini. Saweran memberi kesempatan orang-orang yang ingin menonton tapi tidak punya duit untuk bergabung. Dan, semoga saja yang punya uang memberi donasi lebih untuk mensubsidi yang lain. Serunya lagi, panitia menyediakan banyak makanan gratis. Ada mie ayam, bakso, siomay, sampai es doger segala.



Waktu menonton, kami semua duduk lesehan di karpet. Ada tiga film yang pernah masuk nominasi di Festival Film Cannes yang diputar di sini. Yang pertama judulnya: Kara, Anak Sebatang Pohon. Film buatan tahun 2004 ini awalnya tugas akhir Mas Edwin. Film sepanjang 9 menit ini bercerita tentang seorang anak perempuan yang ibunya meninggal tiba-tiba karena terbunuh oleh Ronald Mc Donald. Kara yang tinggal di daerah pegunungan menjadi obyek foto seorang wartawan. Suatu ketika ia memutuskan pergi untuk mencari pembuhuh sang ibu. Saya suka metafora yang disampaikan film ini. Cuma heran saja kenapa si ibu terbunuh dengan cara yang aneh. Kalau saya yang jadi pembuatnya sih, akan lebih memilih si ibu mati dengan cara tersedak waktu makan produk Mc Donald.

Film kedua berjudul The Fox Exploit The Tiger Might. Film ini bercerita tentang Aseng, seorang anak muda keturunan Tionghoa yang sedang mengalami  masa puber. Aseng tinggal bersama ibunya yang menjual tembakau dan minuman keras. Seorang petugas berkali-kali datang untuk meminta upeti dari ibu Aseng. Aseng ini berteman dengan anak seorang jendral yang bernama David. Entah kenapa terlalu banyak cerita tentang imajenasi seks orang-orang di dalam film. Saya saja sampai bingung ini film mau cerita tentang diskriminasi atau tentang anak muda yang sedang puber?


Film ketiga adalah Prenjak. Film ini bercerita tentang Diah yang menjual korek api kepada Jarwo. Dengan sebatang korek seharga sepuluh ribu rupiah, si Jarwo bisa melihat kemaluan Diah. Kalau ingin tahu siapa Diah dan mengapa ia butuh uang, silakan tonton sendiri. Ga seru kalo dibocorin.

Acara ini menarik karena Edwin sutradara film pertama dan Wregas beserta tim pembuat film Prenjak bisa hadir di sana. Mereka menjawab banyak pertanyaan dari pengunjung. Kebanyakan penonton usianya antara 20 sampai 30an tahun. Kalau dari obrolan sekilas dengan beberapa orang, mereka rata-rata pembuat film atau anak-anak yang ingin belajar membuat film. Ada beberapa pertanyaan yang ditujukan pada Wregas seputar Festival Cannes dan film jenis apa yang membuat juri tertarik. Kata Wregas, Cannes itu punya beberapa festival film yang diselenggarakan organisasi yang berbeda. Bisa saja sebuah film masuk menjadi nominasi dalam beberapa festival. Wregas sendiri mengaku tidak bisa menebak selera juri. Film-film yang menjadi nominasi satu sama lain sangat berbeda cara eksekusinya.

Kalau saya pribadi, tertarik dengan film Prenjak karena film tadi sederhana. Dibuat dalam waktu singkat oleh orang-orang yang berteman lama. Dialog dalam film antara tokoh Jarwo dan Diah itu sangat wajar. Dan, di akhir film penonton bisa melihat alasan Diah membutuhkan uang.  Bisa jadi juri memilih film tadi sebagai pemenang karena dibanding nominator lain, dibuat dengan biaya paling sedikit. Sulit lo membuat sebuah karya yang bisa dinikmati dengan alat dan dana seadanya.



Tidak ada komentar :

Posting Komentar