Selasa, 04 Juni 2013

Pagi Pertama di Sawai, Pulau Seram (Tulisan 3)

Badan saya masih pegal karena capek kemarin seharian di jalan. Tapi saya nggak sabar buat jalan-jalan keliling desa. Mumpung langitnya biru sekali. Penginapan Pak Ali yang saya tinggali ini bangunannya terbuat dari kayu. Bentuknya rumah panggung di atas laut. Saya tinggal keluar kamar kalau ingin lihat terumbu karang. Tiap pagi, airnya jernih seperti kaca hijau terang. Keren pokoknya!
Habis sarapan, saya jalan ke desa. Tujuan pertama saya untuk lihat mata air. Orang-orang yang saya temui kemarin cerita kalau di tengah desa ada mata air tawar yang jernih. Katanya, kalau udara lagi panas, airnya tambah dingin.

Sampai di mata air tadi, saya agak kecewa. Tadinya, saya membayangkan mata air cantik dikelilingi bebatuan (komik banget ya?). Ternyata, tempat tadi nggak jauh dari tempat pemandian umum dari semen! Saya nggak sempat ambil foto karena nggak enak sama orang-orang yang mandi sambil mencuci di sana.
Sebagian besar penduduk Sawai bermata pencaharian nelayan. Nggak heran kalau kita datang ke desa bakal disuguhi pemandangan jemuran ikan asin di atap rumah atau di jalanan. Kalo keliling pagi-pagi, pasti ketemu ibu-ibu sedang mencuci ikan. Desa ini padat. Rumah penduduknya saling berdempetan. Sebagian rumah penduduk dibangun di atas air. Kebanyakan rumah jenis ini bangunannya dari papan dan pakai atap dari daun sagu kering. Rumah yang ada di darat biasanya dibangun pakai tembok. Kayaknya hampir semua rumah punya perahu kayu. Masyarakat menyebutnya pok-pok.  Ada yang kecil dan didayung, ada juga yang besar dan pakai mesin.

Saya jalan kaki ke arah lapangan. Ada banyak orang di sana. Mereka lagi nonton anak-anak sekolah latihan senam buat lomba. Senam di sini diiringi musik ceria gitu. Gerakannya mirip kaya tari poco-poco. Sepanjang perjalanan, saya lihat banyak perempuan dewasa makai masker wajah putih-putih. Itu semacam bedak dingin dari tumbukan beras. Fungsinya mirip kaya sunblock campur pelembab.

Saya melanjutkan perjalanan ke sekolah yang ada di atas bukit buat ngambil folo lanskap desa. Di sana saya main-main sama anak-anak sekolah. Saya baru pergi saat nyadar Bu Guru dah nunggu di depan pintu. Seharusnya mereka masuk kelas dari tadi. :P Saya balik ke desa untuk liat-liat. Berhubung desa ini kecil, saya ketemu bapak yang saya tebengi kemarin dan tukang ikan yang saya temui di Masohi. Tadinya sih saya ingin ngobrol banyak sama penduduk, sayang cuacanya panas banget. Flu berat bikin saya nggak nyaman berjemur di luar ruangan. Akhirnya, saya balik ke penginapan.

Di tempat Pak Ali, saya ketemu beberapa tamu dari Jakarta. Mereka lagi ada kerjaan di Maluku dan mau mampir bentar buat snorkling di Tebing Batu Sawai yang terkenal itu. Saya yang tadinya capai dan mau tidur siang langsung pengen ikut. Horee... dapet tebengan lagi. FYI: Kalo mo snorkling orang harus sewa long boat di Pak Ali dengan ongkos 500.000 per hari. Tuhan baik banget deh, tahu saya lagi nggak punya uang tapi pengen jalan-jalan.

Habis makan siang pakai nasi kelapa, asinan, dan ikan kuah kuning, kami berangkat ke pantai. Dan, bumi kayaknya lagi baik hati. Langitnya ceraaahhh... banget. Sebelum sampai ke tujuan, kami bisa lihat terumbu karang dari kapal. Di dekat tebing batu, saya engga bisa lama-lama snorking. Flu berat bikin nggak nyaman banget ngegigit snorkel dan bernapas pake mulut. Saya ngerasa aneh waktu melihat terumbu karang di sana. Kondisinya masih bagus. Kalau dibandingkan tempat lain yang pernah saya datangi, itungannya rapat banget. Tapi ikannya dikit. Dan engga terlalu warna-warni.

 Akhirnya saya milih untuk duduk di pinggir pantai. Asyik banget, selain kami, nggak ada orang lain. Kaya pantai milik pribadi deh. Saya akhirnya bikin bola-bola dari pasir pantai yang putih bersih dan sesekali ada butiran warna merahnya. Capai main air, kami makan kelapa muda. Nggak tau tu nemu dari mana.
Waktu pulang, kami ketemu sama anak-anak kecil yang ngedayung perahu di laut. Mereka dengan cueknya pergi lumayan jauh dari desa. Umur mereka mungkin baru tiga tahunan. Benar-benar anak pantai deh.

Balik dari pantai, saya langsung mandi. Habis itu, saya minta diantar ke atas bukit yang ada benderanya. Pengen lihat keseluruhan desa dari atas. Tadinya sih, saya pengen pergi sendirian, tapi orang-orang pada bilang kalo bakal nyasar. Akhirnya saya diantar sama Noyan.

Bukit bendera itu sebenarnya batu kars besar. Permukaannya tajam dan nyakitin kaki. Beberapa bagian kemiringannya sampai 70 derajat. Dan, sepertinya saya bisa ilang kalo ngotot pergi sendirian. Jalan setapak yang dimaksud sebagian dah mulai hilang ketutup tumbuhan saking jarangnya dilewati. Noyan sampai bawa golok dan berkali-kali harus motong batang pohon buat bikin jalan. Itu dah beneran hutan deh.
Sesekali saya ngelihat pohon durian raksasa. Tingginya sampai puluhan meter dan lebarnya ada yang lebih dari satu meter. Katanya, kalau pas lagi berbuah bisa sampai ribuan biji. Penduduk Sawai selain dari laut hidup dari menjual hasil hutan. Ada coklat, kopi, cengkeh, dan pala. Generasi sekarang engga nanam tumbuhan ini. Rata-rata tumbuhan tadi ditanam sama kakek dan neneknya. Berhubung nggak pernah ngerasa nanam, pohon-pohon ini dibiarkan tanpa perawatan.

Kami jalan kaki hampir satu jam. Itu lumayan cepet lo. Yang lain biasanya butuh waktu dua sampai tiga jaman. Sesekali kami ketemu burung nuri warna merah. Sampai di puncak dengan tangan dan kaki kebaret-baret bambu, saya agak manyun. Langitnya kelabu. Nggak terlalu bagus buat difoto.

Desa Sawai itu penduduknya sekitar 2000 orang. Tempat saya jalan tadi pagi itu perkampungan utamanya. Dari atas, bentuknya kelihatan seperti kotak-kotak bergerombol di sebuah cekungan. Di seberang laut dan balik bukit masih ada empat kampung lain. Masing-masing kampung terbagi atas blok agama. Kampung Kristen penduduknya Kristen semua, begitu juga yang Islam. Dari cerita yang saya dengar, awalnya penduduk Sawai awalnya tinggal di darat.  Karena tanahnya sempit, lama-kelamaan mereka membangun rumah di atas air. Dempet-dempetan itu karena puluhan tahu lalu ada suku-suku di Manusela yang memotong kepala. Tiap kali mereka ganti atap rumah atau seorang laki-laki beranjak dewasa, mereka harus memotong kepala orang. Penduduk sengaja bikin rumah dekat supaya aman.

Kami nggak terlalu lama di atas. Karena sepertinya bakal hujan. Pas jalan pulang, kami nemu buah warnanya oranye terang. Bentuknya oval dan lebih keras dari kesemek. Namanya labi-labi. Saya yang penasaran sama rasanya langsung main gigit. Huek. Rasanya asam ternyata. Mirip kaya kedondong.

Bersambung...

Jalan-jalan di Maluku 
Perjalanan ke Pulau Seram 

1 komentar :

  1. hohoho... jalan jalan terus nih, jadi pengen ikut mbak :lol:

    BalasHapus