Senin, 01 Juli 2013

Lost in Translation at Sapa, Vietnam

Sekitar subuh-subuh saya bangun di kereta menuju Lao Cai. Saya mulai panik karena nggak sempat ngecek harus turun di mana. Saya sama sekali nggak punya persiapan pergi ke Sapa yang letaknya di barat laut Hanoi, dekat perbatasan Cina. Yang saya tahu cuma turun di stasiun Lao Cai trus naik bus ke Sapa. Gimana kalau Lao Cai ternyata bukan stasiun terakhir? Kereta yang saya naiki bentuknya kabin-kabin dengan 4 kasur. Ada 3 orang dewasa lain. Waktu saya bertanya dalam bahasa Inggris, jawaban mereka teriakan “No. No.” Saya bingung. Itu maksudnya kereta belum sampai di Lao Cai ataukah mereka tidak mengerti Bahasa Inggris?

Di sepanjang perjalanan di Vietnam, saya sering sekali mendapat jawaban “No” dengan nada tinggi. Banyak pula yang langsung menghindar jika saya mencoba bertanya. Apakah mungkin karena Vietnam lama mengalami perang sehingga mereka tidak “ramah” terhadap orang asing? Ataukah karena saya tidak bisa mengerti bahasa mereka sehingga kami tidak saling bicara? Entahlah. Saya baru sekadar singgah di sini jadi tidak bisa mengambil kesimpulan.

Saat kereta berhenti, seorang sopir travel menawarkan mengantar ke Sapa dengan ongkos 100.000 dong (sekitar 50 ribu rupiah). Awalnya, saya nyaris mengiyakan. Kemudian muncul sopir lain yang menawarkan ongkos 50.000 dong. Sopir pertama menyikut sopir kedua. Dia bilang, sopir kedua tadi menyebut angka 50 USD. Malas ditipu, saya memilih berjalan keluar dan mencari turis lain. Saya benar-benar nggak punya ide nanti mau menginap di mana atau ngapain. Dua orang sopir masih mengikuti saya sambil berkata tidak mungkin saya mendapat tawaran lain yang lebih murah.

Turis pertama yang saya temui tiga orang dari Amerika. Saya bilang saya nggak ada tujuan dan males diikutin sama sopir-sopir ini. Tanggapan mereka sangat engga ramah. Mereka pikir, saya penipu yang mau minta uang (kami ketemu lagi di kota dan mereka minta maaf waktu tahu saya beneran turis).  Akhirnya saya asal aja naik satu travel yang ongkosnya 50.000 dong.

Masyarakat adat di Sapa, Vietnam

Di dalam minibus tadi saya kenalan dengan dua orang turis dari Perancis, namanya Paul dan M. Tahun lalu mereka ke Indonesia dan sempat mampir ke Jogja. Kita jadi cepat jadi teman gara-gara jalan ke Sapa tu berkelok-kelok. Turis-turis lain yang se bus sama kita mulai pada mutah. Kita yang mulai pusing berusaha mengalihkan perhatian. Mulai dari teriak-teriak kalau di luar ada sapi dan pemandangan keren sampai cerita nggak jelas. Saya cerita tentang pengalaman teman dapat tawaran “happy ending” itu kode buat pijat plus-plus di Hanoi. Ternyata, mereka berdua juga punya kisah sejenis. Berhubung mereka “gila” dan menyenangkan, kami langsung temenan dan memutuskan untuk jalan bareng. Itu asyiknya jalan sendirian, pasti ada orang baru yang bisa diajak temenan.

Di bus yang sama ada cewek Inggris lain yang jalan sendirian. Namanya Emily. Saya nawarin untuk share room, dan dia nggak keberatan. Horee... ngirit... Saya dan Emily turun di penginapan Green Valley. Di seberang jalan, ada lembah dan sawah-sawah hijau. Keren. Kalau pagi, biasanya saya nongkrong di bar sambil ngeliatin bukit yang masih berkabut dari jendela. Dan, selama dua hari, saya cuma habis sekitar 250.000 dong (sekitar 125 ribu rupiah). Itu termasuk dua kali sarapan. Murah banget kan?

Habis sarapan, kami ke pusat informasi Sapa buat tanya-tanya dan nyari peta. Berhubung Sapa ada di ketinggian 1600 dpl, jam sembilan pagi di sana masih dingin. Paul dan M nunjukin beberapa rute. Akhirnya, kami milih untuk nyewa motor trus keliling. Sehari, ongkosnya 80.000 dong (Rp 40 ribu). Rute pertama yang kita datangi tempat namanya Ta Phin. Seneng deh rasanya keliling di tempat dengan udara segar setelah belasan hari kena asap dan semrawutnya Hanoi. Saking senengnya, kami sampai nyanyi-nyanyi. Saya naik motor ngeboncengin Emily. Ini pertama kalinya dia naik motor. Awalnya dia sempat takut karena saya nggak terbiasa naik motor di sebelah kanan. Saya berkali-kali hampir tabrakan sama orang yang jalan dari arah berlawanan.

Pemandangan di kiri dan kanan jalan itu sawah-sawah hijau. Pas mau ke desa Ta phin, kami lewat jalan yang berbatu-batu. Jalannya licin banget karena habis hujan. Dan, motor yang saya naiki terpeleset. Kaki saya berdarah, celana panjang saya sobek. Setelah ngebersihin luka saya, Paul ngajak nyari jalan lain yang lebih manusiawi.

Gunung Fansipan, Sapa, Vietnam

Kami berhenti sebentar di Biara Ta phin yang dibangun tahun 1942. Bangunannya sekarang tinggal kerangka karena sempat ada kerusuhan dan dibakar tahun 1945. Tapi saya bisa ngebayangin kalau dulu tempat ini pasti keren. Nggak lama kemudian kami sampai di pintu masuk kawasan Ta Phin. Masing-masing orang harus bayar 20.000 dong. Begitu masuk, kami langsung dikerubuti sama penduduk lokal dengan baju tradisionalnya. Mereka pakai baju dari kain tenun warna biru gelap mendekati hitam. Perempuan-perempuan tadi pakai ikat kepala merah. Jari, tangan, dan leher mereka penuh dengan perhiasan warna putih. Perakkah? 

Saya agak kesulitan moto mereka karena mereka sibuk bertanya: Dari mana? Sudah berapa lama di Sapa? Namamu siapa? Punya berapa saudara? Awalnya, saya menanggapi pertanyaan ini dengan senang hati. Tapi lama-kelamaan saya capai juga menjawab pertanyaan yang sama. Beberapa penduduk  yang ngelihat kaki saya nawarin obat mereka. Saya nggak ngerti itu apa karena tertulis pake Bahasa Vietnam. Kayaknya sih semacam balsam. Paul bilang lebih baik nggak usah dipakai. Gimana kalo itu ternyata obat luar? Kalo cacatkan parah.

Kami jalan-jalan diikuti belasan penduduk lokal yang berusaha nawarin barang dagangannya. Mirip kaya rombongan karnaval. Kami kemudian sampai di sebuah gua. Waktu yang lain masuk ke gua, saya milih duduk-duduk di luar sambil ngamati penduduk lokal yang menyulam kain. Saya lagi nggak tertarik nyusur gua. Toh di Indonesia banyak gua lain yang lebih cantik. Sebenarnya saya pengen ngobrol dengan penduduk lokal, sayangnya, Bahasa Inggris mereka terbatas banget.

Masyarakat adat, Sapa, Vietnam

Kami mutusin untuk nyari buah buat mengganjal perut sebelum makan siang. Paul dan M ternyata jagoan nawar. Mereka ngajarin saya dan Emily berhitung dalam bahasa Vietnam. Kebayang nggak, satu pisang ambon ukuran besar harganya cuma 1000 dong (500 rupiah). Kami beli gelang anyaman tali dengan harga 1000 dong sebijinya. Saya yang nggak tega ngasih uang lebih. Penduduk lokal yang kami beli sampai geleng-geleng. Mereka menawar apapun. Banyak barang yang saya beli bareng mereka di sana jauh lebih murah daripada di Hanoi. Padahal kan logikanya barang di kota besar lebih murah.

Kami kemudian jalan kaki ke desa lain. Sebentar-sebentar kami berhenti buat moto-moto. Meskipun udaranya sejuk, matahari panasnya nyengat banget. Sepanjang perjalanan, Paul paling iseng. Ada babi, anjing, atau ayam pasti dikejar-kejar. Ada satu ayam yang loncat ke jurang karena dia ganggu. Waktu kami komentari kalo dia bunuh ayam, Paul ngejawab dengan enteng kalau ayam tadi berniat buat bunuh diri kok.
Kami balik ke kota untuk makan siang di restoran asyik namanya Viet Emotion. Kami dapet diskon karena kenalan Paul kenal sama yang punya. Horee.. Rata-rata makan dan minum sekitar 120.000 dong. Nggak pa-pa lah, lagi liburan juga.


Kota Sapa, Vietnam

Kami trus jalan-jalan lagi ke air terjun ... Air terjunnya tinggi banget. Sepertinya lebih dari 30 meter. Dari jauh air terjunnya dah kelihatan. Sayang, kami nggak nemu spot bagus buat moto air terjunnya secara utuh. Buat masuk ke tempat ini per orang bayar 20.000 dong. Saya baru ngeh kemudian, di Sapa, masing-masing tempat mungut karcis masuk. Nyebelin, kenapa nggak dibuat karcis terusan ya? Kami batal ke gardu pandang karena disuruh bayar lagi. Ngapain juga harus bayar kalo jalan-jalan di sebelahnya yang gratisan juga punya pemandangan keren. Pas ngeliatin puncak Fansipan ( 3143 m dpl, gunung tertinggi di Indocina) Paul, M, dan Emily tiba-tiba nyanyiin I believe I can Fly nya R Kelly.

Kami misah dan janjian ketemu pas makan malam di kota. Saya dan Emily muter-muter dulu sambil moto-moto. Balik ke kota, saya dan Emily lupa rental motor mana yang kami pinjam. Sempat tanya berkali-kali sebelum ketemu pemilik motornya. Tu Bapak nuntut supaya kami ganti kerusakan. Kami trus pergi ke bengkel motor. Si pemilik motor tadi dengan nyebelinnya minta kami service motornya secara keseluruhan. Kami sempat debat karena ada banyak baret dan kerusakan lama yang dia timpakan ke kami. Enak aja! Males berdebat, akhirnya saya dan Emily ninggalin 30 dolar.

Malem harinya, saya dan Emily ketawa-ketawa waktu ngitung duit. Makanan yang mahal (yes di sini banyak restoran keren tapi engga ramah kantong) dan denda tadi cukup menguras duit kami. Sebelum tidur, kami sempat mainan kelambu. Tempat tidur kami dikelilingi kelambu putih berenda-renda. Berasa kaya putri raja deh. 

Tulisan ini masih bersambung lo. Hari berikutnya, saya dan Emily trekking dan nyasar gara-gara orang yang kami tanya jalan pada engga bisa Bahasa Inggris. Trus, demi datang ke nikahan sepupu, saya harus menempuh 38 jam perjalanan naik bus, kereta, jalan kaki, taksi, dan ganti pesawat tiga kali. Ketemu orang-orang aneh lagi di jalan. 

2 komentar :

  1. Kak Lutfi Retno W. Seru banget perjalanannya *mupeng. Aku belum ada kesempatan keluyuran sendirian lagi (aslinya trauma di kejar-kejar anjing). Ketemu teman-teman baru di jalan, hingga di kira penipu juga hahahaha

    BalasHapus
  2. Wah mba, keren.. Berani banget jalan2 sendirian di Vietnam... Aku ngakak pas baca si Paul bilang ayamnya emang niat bunuh diri hahahah lucuuu hahah :D

    BalasHapus