Senin, 03 Juni 2013

Jalan-jalan di Maluku

Akhirnya setelah beberapa kali tertunda, saya sampai ke Maluku juga. Jalan-jalan kali ini beda dengan perjalanan sebelumnya karena saya engga beli tiket pulang sebelumnya. Ya, rencananya saya akan pulang kalau kehabisan duit atau bosan dengan Maluku. Tadinya, rencana saya ke sana masih dua bulan lagi. Nunggu kalau punya uang dalam angka aman. Estimasi saya, untuk jalan-jalan di Maluku lebih dari seminggu butuh anggaran 7 juta. Lalu, untuk amannya, biasanya saya bawa 10 juta. Karena waktu itu lagi nggak punya duit, saya cuek aja pergi dengan 5 juta termasuk tiket pesawat. Belum tentu dua bulan lagi saya punya waktu luang.

Berhubung saya males googling atau buka buku paduan perjalanan, saya sama sekali nggak punya bayangan nanti mau ke mana.  Beberapa hari sebelumnya, Onya, teman yang tinggal di Ambon menelfon.  Dia bilang kalau masih ada di Banda jadi engga bisa nemeni. Tapi dia bisa meminta temannya untuk menjemput di bandara. Berhubung saya nggak pengen terlalu banyak ngerepotin orang, saya bilang ada teman lain di Ambon.

Perjalanan dimulai dari Jogja naik travel ke Bandara Juanda dalam rangka pengiritan. Saya berangkat pake travel jam delapan malam dari Jogja dan sampai jam empat pagi di Bandara. Sampai di Juanda, saya ngantuk berat karena saya tipe yang engga bisa tidur di mobil. Tadinya seh, mau tiduran bentar sambil nunggu terbang, tapi batal karena bandaranya rame banget. Sambil nunggu waktu terbang, saya sarapan trus numpang mandi di bandara. Saya baru ngeh kalo toilet-toilet di bandara tu nggak didesain buat mandi. Sempit banget dan nggak nyaman! Berhubung jam check-innya masih jam 8, saya ngabisin waktu buat bengong. Bosen abis deh.

Pesawat yang saya naiki ganti di Makassar. Saya harus lari-lari di badara karena sempat nggak nyadar kalo waktu Makassar lebih cepat satu jam. Tadinya saya pikir harus nunggu sejam buat terbang lagi. Untung aja saya sempat lihat jam di dinding dan jadi penumpang terakhir yang masuk ke pesawat.

Turun di bandara Ambon, saya bingung. Asli, nggak ada ide mau ke mana. Al, teman saya, ternyata ada acara dadakan di pulau lain. Dia baru balik ke Ambon sore nanti. Untung aja Mas-mas baik hati yang sepesawat sama saya nawarin tebengan buat ke kota. Horee... nggak usah keluar duit. Saya lalu minta diantar (ngelunjak ya?) ke Jalan AY Patty. Di sana pusat kota, jadi saya bisa muter-muter sambil nungguin Al. Karena lapar banget, saya minta diturunin di rumah makan.

Waktu liat daftar menu, saya lumayan kaget. Di Ambon, harga sekali makan antara 25 mpe 35 ribu. Cukup mahal untuk saya yang terbiasa dengan harga Jogja. Nggak tahu deh, duit saya bisa bertahan berapa hari :D Habis makan, saya jalan kaki dikit ke Masjid Raya Al Fatah buat numpang salat. Masjid utama Kota Ambon ini bangunannya besar.  Tapi entah kenapa menurut saya nggak secantik atau seanggun masjid-masjid utama di tempat lain. 



Selesai salat, saya jalan kaki buat nyari toko yang jual besi putih. Berhubung itu hari minggu, orang-orang yang saya temui di jalan bilang banyak toko yang tutup. Tapi ada satu di Jalan Trikora yang buka. Di sana saya cuma beli satu gelang sederhana. Ada beberapa gelang yang pengen saya beli tapi saya saya harus tahu diri. Kali ini saya engga punya anggaran belanja. 

Al ngirim pesan bilang kalo di sekitar sana ada Warung Kopi Sibu-sibu. Tadinya, saya mau naik becak. Tapi pas saya nyebut Sibu-sibu, tukang becaknya bilang jalan kaki aja. Katanya, warungnya deket. Jujur banget ya? Kalo di kota lain, saya berani bertaruh bakal diputer-puterin dulu.

Warung Kopi Sibu-sibu ini tempatnya nyenengin. Ada atmosfer ramah dan tua di sana. Warungnya penuh dengan poster-poster artis dan tokoh dari Maluku. Tempat ini mutar lagu-lagu pelan Maluku yang cocok untuk lagu pengantar tidur. Selain minum, saya memesan bubur sagu. Kuenya terbuat dari santan dan gula merah. Enak. Kerasa banget rempah-rempah terutama kayu manisnya. Kuenya bentuk segitiga dan disajikan dalam daun sagu. Ada taburan ini almond diatasnya. Saya nongkrong di sana bareng Geertz. Kenalan baru dari Belanda yang barusan liburan dari Sulawesi.

Tadinya sih dia nawarin jalan bareng. Sayangnya rute dia ke Saparua. Geertz bilang temannya pernah ke sana dan nemu tempat snorkling yang engga jauh dari pantai. Trus ada penginapan yang nyenengin buat bermalas-masalan. Kayaknya, kalo cuma spot snorkling, saya nggak harus ke Maluku deh. Jadi, saya memutuskan untuk engga gabung.

Malamnya, Al nemeni saya ke bukit. Kami lihat lampu-lampu Kota Ambon dari samping Patung Christina Marta Tiahahu yang terkenal itu. Kayaknya, hampir semua foto Ambon yang saya lihat selalu ada yang diambil dari tempat ini. 

Paginya, saya jalan kaki keliling kota. Berhubung niatnya cuma lihat-lihat, saya nggak ada agenda mau ngapain. Yang pertama saya datangi, toko penjual barang antik yang kebetulan ada di pinggir jalan. Tadinya sih, saya berharap bisa lihat barang yang khas Maluku. Ternyata engga. Toko ini aneh menurut saya. Ga jelas banget jualannya. Ada banyak barang yang engga antik (masih baru maksudnya) yang kata penjualnya dari Jawa. Trus ada patung-patung kayu gaya asmat, kerang yang engga jelas bentuknya, sticker, sampai tumpukan buku bekas. Ada Di Bawah Bendera Revolusi juga lo. Di samping toko tadi, saya nemu warung nasi kuning yang enak banget. Lauknya banyak banget. Ada ikan cakalang dimasak kuah pakai gula merah. Ditambah serundeng, buncis, bakmi, dan tempe. 

Habis itu saya keliling pasar. Nggak ada barang yang menarik di sini. Yang dijual standar: kain, baju, peralatan rumah tangga. Sama kaya pasar di kota lain. Cuma di sini saya nemu tukang jual besi putih dan mutiara. Akhirnya saya khilaf beli anting mutiara lagi. Padahal kemarin pas di lombok juga beli mutiara.

Ambon, siang itu panas banget. Nggak enak buat jalan kaki. Sampai saya akhirnya mutusin pake payung. Saya mampir bentar di Gong Perdamaian. Letaknya di tengah-tengah taman. Waktu mau ngedekat, ternyata gerbang-gerbang di taman tadi dikunci. Mungkin supaya nggak dipake buat tidur gelandangan? Terpaksa deh saya yang pake rok loncat pager. 3 orang turis dari Jakarta yang saya temui akhirnya ikut-ikutan loncat pager juga. Tadinya, saya berharap ada keterangan kenapa Gong Perdamaian dibangun di sini. Ada cerita dan harapan apa sih kenapa benda tadi ditaruh di situ. Menurut saya, akan lebih menarik jadi pengunjung nggak sekadar lihat benda mati bergambar bendera-bendera dan simbol-simbol agama.

Capek jalan kaki, saya duduk-duduk di Taman Patimura. Di sana saya ngobrol dengan 3 orang penduduk Ambon. Saya penasaran dengan cerita Ambon jaman rusuh dulu. Tiga bapak ini cerita kalau mereka dan semua orang di Ambon sama sekali nggak tahu siapa yang mulai kerusuhan.  Mereka cerita tahun 2000 sampai 2004 suasanyanya mencekam karena banyak orang mati tertembak. Nggak ada yang tahu siapa pelakunya. Kalau kata supir taksi yang saya naiki kemarin, ada orang-orang yang dibayar untuk ngebakar masjid dan gereja. Mereka engga tahu motif pasti penyuruhnya apa, tapi bukan agama. Ada orang-orang yang ingin dapet duit dari kerusuhan.

Selama kerusuhan, orang-orang pada takut keluar rumah. Wilayah-wilayah di Ambon berubah jadi blok berdasar agama. Kalo penduduk suatu tempat mayoritas muslim, yang Kristen pergi. Begitu juga sebaliknya. Tahun-tahun tadi nggak ada  orang yang berani pakai simbol agama seperti kalung salib atau kerudung keluar rumah.

Beberapa orang yang saya temui bilang mereka tahu konflik Ambon sebenarnya bukan karena agama. Setelah kerusuhan meluas, orang-orang mempertahankan diri. Mereka pada ketakutan karena  rumahnya dibakar atau dilempari batu, bahkan tidak sedikit yang saudaranya meninggal. Karena tidak tahu siapa musuh mereka, agama muncul sebagai pembeda. Orang curiga pemeluk agama lain pelakunya.

Waktu mau salat, orang-orang yang saya temui di Taman Pattimura bilang kalau itu daerah Kristen. Nggak ada mushola atau mesjid di sana. Salah satunya lalu minjemi saya yang baru aja dikenal motor untuk pergi ke Masjid Al Fatah. Sejauh ini, penduduk Ambon yang saya jumpai baik-baik. Saya nggak habis pikir kok bisa ya dulu pada bunuh-bunuhan?

Habis salat, saya nglanjutin nyari makan di Jalan Kopi. Saya tertarik untuk masuk ke Warung Supira karena  bentuknya kuno. Ternyata, warung tadi dibangun tahun 1950. Meski mereka punya banyak menu lokal, saya milih gado-gado karena perut saya sedang tidak bisa diisi makanan berat.

Di sepanjang Jalan Kopi, ada deretan orang jualan plakat-plakat dari batu marmer. Kebanyakan bertuliskan nama, tanggal lahir, dan simbol-simbol. Saya baru tahu kalo benda tadi batu nisan. Saya lanjut jalan-jalan lagi sambil beli manggis dan duku. Sepertinya dua buah tadi, juga durian, banyak tumbuh di sekitar Ambon. Di sepanjang jalan berkali-kali saya ketemu penjual tiga buah tadi. Saya iseng masuk beberapa toko oleh-oleh. Selain jual mutiara dan besi putih, banyak yang jual hiasan dinding dari kulit kerang. Cangkang kerang yang berkilauan dipotong dan disusun berbentuk pemandangan atau hewan. Bagus-bagus banget. Pengen beli tapi nggak tahu ntar dipajang di mana. Trus, saya juga harus berhemat ding.

Malamnya, saya dan Al ditraktir Onya yang barusan balik dari Banda. Kami makan nasi kelapa di daerah Batu Merah. Nasi kelapa itu nasi santan dengan kelapa yang dikasih ikan teri. Trus dimakannya bareng ikan bakar yang dicelup di kuah jeruk dengan potongan sambal dan tomat yang disebut colo-colo. Enak... Saya abis satu porsi besar.

Esok harinya, saya berangkat ke Pulau Seram dan jalan-jalan melihat pembuat sagu. Seru lo.

1 komentar :