Rabu, 30 November 2011

Dari Maumere hingga Labuhan Bajo





Saat saya kegirangan melihat gunung-gunung pasir dan laut yang berwarna kehijau-hijauan dari pesawat yang hendak mendarat di Maumere, teman saya berkata di Labuhan Bajo pemandangannya lebih dramatis lagi. Oh ya? Jadi nggak sabar untuk cepat-cepat turun dan melihatnya langsung. Saya ingat komentar beberapa teman yang pernah ke Flores sebelumnya. Kata mereka, Flores tu punya banyak matahari alias panas banget. Trus gara-gara sering lihat iklan TV tentang CSR sebuah perusahaan air minum tentang kekeringan di sana, saya sempat beranggapan kalau seluruh Flores adalah daerah mirip-mirip gurun pasir.

Turun dari pesawat, kami dijemput sopir rental untuk pergi makan siang di sebuah restoran di pinggir dermaga. Selama kami makan, ada 3 kapal kayu datang dari Pulau Besar bawa puluhan penduduk lokal. Banyak dari mereka mengenakan kain ikat yang warna-warni. Jadi pengen pulang bawa beberapa motif.

Habis itu, kami harus menjemput tiga orang teman dari Australia yang sudah beberapa hari tinggal di Maumere. Mereka menginap di sebuah hotel tepi pantai yang menghadap langsung ke Pulau Besar. Teman-teman Australia tadi berhari-hari menghabiskan liburan dengan menyewa perahu nelayan untuk mencari spot snorkling.

Di sana, saya dengar cerita dari beberapa penduduk lokal kalau sebagian besar penduduk Maumere turun-temurun hidup dari pertanian. Menurut saya itu hal aneh karena mereka tinggal dekat dengan laut yang sangat kaya ikan.

Kami ketemuan bentar dengan beberapa petani dari Alor, trus nglanjutin jalan. Kami sengaja minta supirnya nyetir pelan-pelan, supaya ga mabok. Jalan aspal di sana tu berkelok-kelok dan naik turun terus! Waktu jalan ke arah barat, bukit-bukit kering yang tadinya jadi pemandangan di kanan dan kiri jalan berubah jadi sawah dan hutan menghijau. Eh, beda banget dengan yang ada di bayangan saya.

Di Moni, kami nginap di sebuah losmen kecil yang menyenangkan. Namanya Hidayah. Di belakang losmen ini, ada sungai berair terjun. Paginya, saya langsung berjalan-jalan di aspal yang berkelok-kelok. Senangnya lihat anak-anak SD berangkat sekolah dengan latar belakang bukit-bukit hijau, kebun sayuran, dan permukiman penduduk. Kebanyakan rumah di Flores bentuknya persegi dengan dindingnya terbuat dari bambu disusun vertikal dan atap seng kaya gini:

Pemandangan selanjutnya masih didominasi gunung-gunung hijau dan jurang. Sesekali ada sawah dan gerombolan rumah-rumah penduduk. Pemandangan favorit saya ada di di daerah namanya Kilometer 13 di Ende. Di kanan jalan ada jurang dengan barisan bukit batu tinggi ke atas. Di bukit tadi ngalir beberapa air terjun kecil. Air terjun-air terjun yang cuma ada pas musim hujan tadi jatuh sungai berlekuk-lekuk di dasar jurang. Cantik sekali. Kami berhenti sebentar buat foto-foto. Sayang, lensa kamera saya terlalu pendek. Hiks!


Kami mampir lagi di daerah namanya Nanga Panda. Di sini ada banyak batu koral berwarna hijau. Kami berhenti bentar untuk jalan-jalan di pantai yang semua batunya berwarna hijau. Sama penduduk lokal, batu di pantai tadi dipilah-pilah berdasarkan ukurannnya buat dijual. Harganya sekitar 25 ribu per karung besar. Batu-batu ini sama pengepulnya dibawa ke Jawa pakai kapal.

Di Ende, kami pengen mampir bentar di rumah yang dulu pernah dipakai untuk mengasingkan Bung Karno. Sayang, rumahnya terkunci jadi kami nggak bisa lihat isinya.

Sepanjang perjalanan, kami beberapa kali melihat pasar tradisional. Penuh dengan ibu-ibu yang berbelanja. Kebanyakan dari mereka memakai kain tenun warna-warni. Trus beberapa makai gelang dari gading. Kami mampir bentar ke salah satu pasar buat lihat-lihat dan nyari makanan tradisional. Sempat ngiler waktu lihat pedagang kain nawarin belasan kain tenun.

Kami jalan lagi ke daerah Bena dan nginap di Villa Silverin. Tempatnya menyenangkan, kami bisa melihat Gunung Purba Inierie dari teras depan kamar tidur. Selain itu, pas makan malam di restoran, kami dapat bonus pemandangan lampu-lampu Kota Bawaja. Seperti biasa, kalau pagi-pagi, saya jalan-jalan di seputaran hotel. Niatnya nyari tempat tertinggi untuk bisa menikmati pemandangan Kota Bajawa yang masih tertutup kabut dan Gunung Inierie. Di puncak bukit, ada nenek-nenek namanya Mama Katarina. Kerjaannya jualan sayur di pasar. Nenek tadi cerita klo panennya gagal terus gara-gara kebanyaan hujan.

Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Manggarai. Kamiaat melewati hutan yang masih alami sebelum sampai di kota. Kami langsung mematikan AC dan membuka jendela untuk menikmati udara segar. Saat berkeliling di daerah pinggiran kota, sawah-sawah berteras mengikuti kontur pebukitan merupakan pemandangan yang mudah ditemui. Teman-teman Australia saya berkali-kali memuji tempat ini indah sekali. Saya hanya tertawa dan mengatakan ada banyak lokasi lain di Indonesia yang pernah saya kunjungi lebih cantik dari tempat ini.

Mayoritas pendudukFlores beragama Katolik. Di hampir tiap sudut kota ada terdapat bangunan megah gereja. Tiap hari minggu, orangtua memakaikan baju bagus ke anak-anaknya untuk pergi ke gereja. Di sini, tiap kali kita datang ke kampung-kampung, kita bisa dengan mudah menemukan perempuan yang sudah menikah menenun kain. Biasanya untuk dipakai sendiri dan dijual jika berlebih. Babi merupakan pemandangan umum yang bisa ditemui di perkampungan Flores.

Akhirnya, kami sampai di persinggahan terakhir: Labuhan Bajo. Di sini, ada dermaga yang terlihat cantik dari atas. Tiap hari, puluhan kapal pesiar bersandar di sini. Kebanyakan disewa untuk membawa turis yang ingin melihat komodo di habitat aslinya. Kami pun memulai perjalanan ke Pulau Seraya besar. Pulau-pulau kecil berbukit tanpa tanaman menjadi pemandangan di kiri dan kanan kami. Di batu gosok, kami melihat-lihat peternakan ikan kerapu. Ikan-ikan berwarna putih tadi tubuhnya penuh dengan totol-totol hitam. Gigi-gigi mereka juga lucu-lucu. Kapal kemudian berhenti supaya kami bisa bermain air sembari snorkling. Kami pulang setelah malam tiba. Ddari kejauhan dermaga terlihat lampu-lampu kota yang menyala. Pantulannya di air ter;o

Rombongan kami terbagi dua karena teman-teman Australia saya masih ingin melihat Hutan Mbeliling sedangkan saya dan seorang teman ada acara lain di Jogja. Bandara dipenuhi oleh turis asing. Selain kami hanya ada beberapa orang Indonesia. Kalau dilihat dari bajunya, kalau bukan pejabat yang sedang dinas, mereka penduduk lokal yang hendak pergi ke tempat lain. Hei, turis dari Indonesia pada ke mana ya?

2 komentar :

  1. waaaah mau juga dong ke labuan bajo :D

    BalasHapus
  2. hah..maumere?? sekitar 3 thn lalu saya pernah diajak temen kesana.. -kerja- :D

    BalasHapus