Jumat, 21 Juli 2017

Alasan Memilih Laptop Mac Book




Sebagai penulis dan pembuat film dokumenter, alat kerja paling penting yang saya gunakan adalah laptop. Benda ini sudah seperti separuh otak saya. Semua data penting mulai dari foto-foto tempat-tempat yang pernah saya kunjungi, dokumentasi pekerjaan, hingga rencana mendatang ada di sini. Saya bahkan tidak pernah pergi keluar kota tanpa membawa laptop.

Minggu, 16 Juli 2017

Cerita dari Masjid Kuno dan Kerajaan Kera, Banyumas





Karena mertua sakit, kami memutuskan pulang seminggu ke Banyumas untuk menengoknya. Kami memanfaa waktu untuk mengelilingi sungai, pasar, dan hutan yang ada di seputar Banyumas.  Tempat yang pertama saya kunjungi adalah Masjid Soko Tunggal Cikakak. Katanya, masjid ini adalah masjid tua yang sering didatangi peziarah. Ada yang sekadar sembahyang, meminta berkah, sampai mencari pesugihan. Masjid ini letaknya di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Banyumas. Sekitar satu kilometer dari Jalan Raya Ajibarang-Wangon. 

Jumat, 16 Juni 2017

Kantor Kecil di Pojok Rumah


Sewaktu masih bekerja untuk sebuah jaringan LSM, saya bermimpi punya kantor di rumah dan sesekali terbang ke pelosok Indonesia. Awalnya, hal tersebut terkabul secara tidak sengaja. Menikah dan pindah ke Jakarta memaksa saya berganti pekerjaan. Saya yang awalnya menulis dan mengerjakan video sebagai hobi, mengubahnya mencari alat mencari nafkah. Tinggal di Jakarta dengan status baru ternyata membutuhkan banyak biaya. Tabungan saya kemudian berkurang dengan cepat. Hal tersebut memaksa saya dan suami mencari usaha yang bisa dilakukan dari rumah. Tekad ini menguat karena saya tidak mau menghabiskan waktu untuk bekerja dan menua di jalan. Saya masih ingin punya energi untuk mengerjakan hal-hal menyenangkan seperti proyek sosial, membaca, mengunjungi berbagai wilayah di Indonesia, dan bermain. 

Kamis, 18 Mei 2017

Warna yang Menyemarakkan Duniamu




Saya punya tempat bermain baru namanya Buka Buku. Ruang baca yang beralamat di Ruko Puri Sentra Niaga Blok A3, Kalimalang ini punya banyak koleksi buku keren. Ruangannya juga luas dan berwarna-warni. Membuat orang betah duduk-duduk sambil membaca atau bermain di sana. Sebelumnya, ruko tersebut bercat putih dan terlihat suram. Ruang baca itu terlihat lebih hidup setelah Mbak Nunu, pemiliknya, mengubah interiornya dengan rak-rak dan mengecat ulang tembok, jendela, dan pintu-pintunya.

Sabtu, 29 April 2017

Bekerja Sambil Menikmati Liburan di Kraton Yogyakarta


Saya selalu senang jika mendapat tugas di Yogyakarta. Itu artinya, saya bisa mampir untuk menengok orangtua sembari berwisata kuliner.  Sebagai orang yang lahir dan besar di Yogyakarta, saya punya banyak kenangan dengan banyak rumah makan di tempat ini.


6 hari mengelilingi kraton membuat saya teringat masa kecil. Dulu orangtua saya kadang mengajak ke kraton tiap ada acara besar. Waktu kecil, kakek juga sering membacakan cerita-cerita wayang. Pertunjukan wayang, latihan tari, dan ruangan-ruangan di kraton mengingatkan saya pada masa itu. Saya melihat gamelan Kyai Guntur Madu dan Nogo Wiloto ditaruh di bangsal. Saya jadi kangen mendengarkan kedua gamelan tersebut saat peringatan sekaten. Musiknya pelan dan sakral. Saya juga suka berjalan-jalan di bangunan tua kraton yang memiliki perpaduan arsitektur hindis dan jawa dengan sudut-sudut dan perabotan cantik. Termasuk didalamnya, tegel-tegel kunci warna-warni yang menghiasi banyak ruangannya. Suatu saat nanti, saya ingin membangun rumah di Yogya dengan tegel ini di interiornya.

Minggu, 09 April 2017

Saat Foto Bercerita tentang Bali di Uma Seminyak


Konon katanya, segala sesuatu itu akan terlupakan jika tidak direkam. Hal tersebut yang dilakukan oleh 7 orang pencerita di pameran foto UNSPOKEN. Kegiatan yang berlangsung di Uma Seminyak, Bali tersebut merupakan bagian dari program “Saya Bercerita”. Vifick—seorang fotografer yang tinggal di Bali—mengajak peserta pameran untuk menggunakan fotografi sebagai medium bercerita.

Kamis, 30 Maret 2017

Mencari Ondel-ondel di Belantara Jakarta

Jakarta-ondel ondel

Tiap sore, jalan depan tempat tinggal saya dilewati rombongan ondel-ondel. Biasanya, satu grup terdiri atas 4 orang. Pemakai boneka ondel-ondel, pendorong gerobak musik, dan dua orang yang mengumpulkan uang receh sebagai pemakai boneka pengganti.

Awalnya, saya pikir kelompok ondel-ondel itu berasal dari daerah seputar Pasar Minggu. Sampai saya dan Gugun datang ke Kampung Kramat Pulo untuk membuat film tentang Ondel-ondel. Separuh penduduk kampung tersebut hidup dari mengamen ondel-ondel. Siang hari, para pengamen ini bertebaran di seputaran Jakarta. Pertama tiba di tempat tersebut saya melihat belasan ondel-ondel berjajar di pinggir jalan dan gang-gang sempit. Kesan pertama saya, ondel-ondel tadi kotor. Berbeda dengan ondel-ondel yang dipajang di pertokoan atau perkantoran setiap ada acara.