Selasa, 10 Oktober 2017

Rumah Ketiga bernama Café Tantular



Awalnya saya sempat tidak menyangka kalau di tengah perumahan Taman Kedoya Baru, Jakarta Barat ada sebuah cafe. Tantular namanya. Saya sempat heran. Benarkah yang nama Tantular ini merujuk pada Empu dari Kerajaan Majapahit yang menulis kitab Sutasoma? Saya baru tahu setelah mendengar penuturan pemiliknya. Mereka memang sengaja mengambil nama tersebut karena kagum dengan filosofi Bhineka Tunggal Ika yang melambangkan keberagaman Indonesia. Bahkan, logo mereka terinspirasi dari kepala garuda.

Kamis, 17 Agustus 2017

Nasionalisme lewat sepatu



Beberapa tahun ini, saya mulai membiasakan membeli barang kerajinan tangan. Saya suka karena tiap barang unik. Barang tersebut  tidak bisa diproduksi masal karena dibuat satu per satu dengan tenaga kerja manusia. Sebagai pemakai, saya merasa senang karena produk tersebut tidak pasaran. Selain itu, membeli produk kerajinan tangan buatan Indonesia berarti memberi pemasukan pada pembuatnya. Semakin banyak kita memakai produk kerajinan tangan buatan Indonesia, sama dengan membuka lapangan pekerjaan.

Senin, 07 Agustus 2017

Berkenalan dengan Tanah Ombak di Padang



Waktu Melati Taman Baca menawari saya untuk ikut program magang literasi di Kota Padang, saya langsung bilang iya tanpa pikir panjang. Di bayangan saya, seru bisa tinggal di rumah penduduk sekaligus bertemu pegiat literasi lain. Saya juga bisa belajar bagaimana mengajak masyarakat menyukai buku. Lokasi magang kami di Tanah Ombak, sebuah taman baca yang beralamat di Jalan Purus 3 no 30, Kota Padang. Awalnya saya agak kaget waktu sampai di sana. Taman bacanya terletak di ujung gang sempit. Dalam bayangan saya, sebuah tempat yang dipilih sebuah direktorat di Kementrian menjadi lokasi magang pasti punya fasilitas lebih.  Tanah Ombak “hanya” sebuah rumah dengan atap seng dan tembok sederhana. Saya baru mendapat jawaban dalam beberapa hari kemudian. Ruangan luas penuh rak buku tersebut unik karena punya banyak kegiatan.

Jumat, 21 Juli 2017

Alasan Memilih Laptop Mac Book




Sebagai penulis dan pembuat film dokumenter, alat kerja paling penting yang saya gunakan adalah laptop. Benda ini sudah seperti separuh otak saya. Semua data penting mulai dari foto-foto tempat-tempat yang pernah saya kunjungi, dokumentasi pekerjaan, hingga rencana mendatang ada di sini. Saya bahkan tidak pernah pergi keluar kota tanpa membawa laptop.

Minggu, 16 Juli 2017

Cerita dari Masjid Kuno dan Kerajaan Kera, Banyumas





Karena mertua sakit, kami memutuskan pulang seminggu ke Banyumas untuk menengoknya. Kami memanfaa waktu untuk mengelilingi sungai, pasar, dan hutan yang ada di seputar Banyumas.  Tempat yang pertama saya kunjungi adalah Masjid Soko Tunggal Cikakak. Katanya, masjid ini adalah masjid tua yang sering didatangi peziarah. Ada yang sekadar sembahyang, meminta berkah, sampai mencari pesugihan. Masjid ini letaknya di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Banyumas. Sekitar satu kilometer dari Jalan Raya Ajibarang-Wangon. 

Jumat, 16 Juni 2017

Kantor Kecil di Pojok Rumah


Sewaktu masih bekerja untuk sebuah jaringan LSM, saya bermimpi punya kantor di rumah dan sesekali terbang ke pelosok Indonesia. Awalnya, hal tersebut terkabul secara tidak sengaja. Menikah dan pindah ke Jakarta memaksa saya berganti pekerjaan. Saya yang awalnya menulis dan mengerjakan video sebagai hobi, mengubahnya mencari alat mencari nafkah. Tinggal di Jakarta dengan status baru ternyata membutuhkan banyak biaya. Tabungan saya kemudian berkurang dengan cepat. Hal tersebut memaksa saya dan suami mencari usaha yang bisa dilakukan dari rumah. Tekad ini menguat karena saya tidak mau menghabiskan waktu untuk bekerja dan menua di jalan. Saya masih ingin punya energi untuk mengerjakan hal-hal menyenangkan seperti proyek sosial, membaca, mengunjungi berbagai wilayah di Indonesia, dan bermain. 

Kamis, 18 Mei 2017

Warna yang Menyemarakkan Duniamu




Saya punya tempat bermain baru namanya Buka Buku. Ruang baca yang beralamat di Ruko Puri Sentra Niaga Blok A3, Kalimalang ini punya banyak koleksi buku keren. Ruangannya juga luas dan berwarna-warni. Membuat orang betah duduk-duduk sambil membaca atau bermain di sana. Sebelumnya, ruko tersebut bercat putih dan terlihat suram. Ruang baca itu terlihat lebih hidup setelah Mbak Nunu, pemiliknya, mengubah interiornya dengan rak-rak dan mengecat ulang tembok, jendela, dan pintu-pintunya.